Jumat, 25 September 2020

Nganget, Jambangan Bangilan 24 September 2020

    

Menghangat

        Kala itu, di kolam serasa sahdu. Suasananya tidak seramai bualan “botoh” Calon Bupati. Hanya ada beberapa warga yang “ngalap” keberuntungan di kolam itu. Yah, keberuntungan. Konon, kolam itu sering jadi media penyembuhan penyakit, kepenatan sampai biro jodoh. Bahkan, ada banyak mitos. Mulai makam wali, pemandian ratu dan lain sebagainya. Entahlah, wallahu a’lam.

        Pengunjung wahana air hangat di kolam ini hilir mudik tak henti. Mulai dari alamat orang, tipe orang, sampai rupa orang datang silih berganti. Dari jawa timur sampai jawa tengah, dari anak-anak sampai tua Bangka, dari sehat jinggrang sampai jalannya onggrong-onggrong, dari hijab sampai mana hijabnya. Lengkap.

        Kebetulan, saat itu pengunjung di wahana itu sepi tapi kuorum. Saat itu ada perempuan yang memakai baju g-string. Kebetulan bodinya tidak mendukung. Mungkin baru saja melahirkan Caesar atau bahkan belum lahir. Tubuhnya tampak lekukan lemak. Wajahnya mirip glowing ditambah kerudung semampai hingga pundak. Sesekali meredam ke dalam kolam. Legging dorengnya benar benar kuyub.

        Saya mengamati sekitarnya. Sebelahku misalnya. Tiba tiba mengguyur badannya dengan air kolam yang panas. Lalu menyelam di dasar kolam. Saya kira dia menggurui. “Luar biasa”, mulaku. Tapi ternyata, setiap kali “mentas” dia memerhatikan perempuan itu. Tak jarang dia menggerutu. Entah apa komat kamitnya. Lalu menyahutku, “mas, dêlokléh, wong kok ngunu antrahane”, saya hanya tersenyum tunduk, oh, ternyata unjuk pamer to, bungkamku. Lalu dia menyelam lagi. Di sebelah perempuan tersebut ada laki-laki paruh baya. Plontos. Tidak ada kekar-kekarnya. Rambutnya sudah beruban. Pemuda penyelam itu mengalihkan perhatiannya. Dia pindah memerhatikan lelaki paruh baya disebelah perempuan itu. "sopo mas iku? Bojone? tanyanya. Belum ku jawab, opo yo kuat? ra ngarah kuat iku, iyo tara mas”, lagi lagi saya tersipu. Memang begitu gayaku.

        Lanjut, teman sebelahku. Awalnya kita fokus untuk foreplay sebelum masuk ke kolam. Wajah tirusnya sudah tidak pantas dicurigai mencuri pandang. bayyah”, ucapnya. Awalnya saya tidak paham, apa pikirannya. Oh, ternyata… setelah saya tau dia melihat perempuan itu, ...... saya tetap belum paham. entahlah, apa yang dimaksud temanku dari perempuan itu.  

        Saya juga membersamai teman ku disisi berbeda. Mungkin dia paling mungil diantara kita. Tampak dia tolah toleh menikmati keindahan alam. Pohon rindang dan daun ijuk diatas kolam memang sejuk. Saya meyakini dia bertasbih merasakan kuasa tuhan diiringi sepoy hangat hawa kolam itu. Dia mengira semua orang sibuk dengan dirinya masing-masing. Dia tidak sadar saya mencuri pandang. Ternyata pandangnya tak luput. Selain alam juga ada keindahan lain yang dilihatnya. Sesekali saya melihat kolomenjingnya menelan ludahnya, sambil melihat perempuan itu. Saya berhusnudlon saja. Mungkin dia sedang latihan qirodalam hati.

        Temanku memang unik-unik. Ada si tirus, ada si mungil. Lalu ada si jumbo. Posisi si jumbo di kolam paling dekat dengan perempuan tersebut di banding dengan pengunjung lain. Tapi mu’taman, fix, dia lempeng galeng, tidak mungkin lah dia melirik perempuan itu. Tapi tetap saya memerhatikan. Mulai dari meredam kakinya, Sampai celananya basah. Entah bagaimana caranya, yang diredam kakinya tapi yang basah celananya. Mungkin itu karomah. Lalu tiba-tiba dia menyelam. Ada apa ini, kenapa tiba tiba menyelam, tanyaku.  Awalnya saya tidak sadar, kenapa dia suka menyelam. Satu kali, dua kali. Ternyata setelah saya angen-angen di rumah, saya baru paham. Saat beliau menyelam, dia menghadap ke depan, tapi saat keluar tiba-tiba badannya menghadap ke sisi kiri, sisi dimana perempuan itu berada. Begitu dia mengulanginya lagi. Oh begitu, mungkinkah dia tidak memandang di atas kolam? tapi didalam kolam, juga tetap tidak mencuri pandang?. Tapi prasangkaku, tetap baik. Mungkin begitu caranya, agar anggota tubuhnya merata tersapu air hangat dari sumber dari celana. (eits, salah ketik, maksudnya kolam. Red).

Sementara pengunjung lain juga sering melirik.

Tapi biar lah. Itu hak mereka. Saya tetap suka bergurau tapi bersanad. Kalau saya memerhatikan malah hal lain, kesendiriannya di tengah kaum bersahwat. Tampak canggung dan resah. Itu sebabnya dia bergegas mengakhiri kekuyubannya.

Selesai. Satu persatu kami mengakhiri pemandiannya. Saya paling dulu. Saat di penjual baju, tampak perempuan itu masih sendiri di sebelah toko dengan pakaian hijab syar’i. Ternyata dia menunggu sang pahlawan nafkah bekerja. Suaminya adalah tukang pijat disebelah kolam. Begitu ujarnya menjelaskan kesetiaannya.

Selamat beraktifitas. Semoga kita dianugerahi pasangan yang setia dan sholihah fid dun-ya ilal akhiroh, amin.

 

cerita ini adalah fiktif. dan tokoh yang diceritakan adalah hanya untuk hiburan. bila ada kesamaan, mohon maaf

Kamis, 06 Agustus 2020

Konser bisa ditahan, rindu pengantin mana mungkin ditahan



Konser bisa ditahan, rindu pengantin mana mungkin ditahan


Tidak dipungkiri, pandemi virus corona ini membingungkan banyak kalangan. Dari Pemerintah, bisnis, pendidikan, keluarga sampai urusan percintaan-pun dibuat kalang kabut.

Program pemerintah yang disusun rigit berdasarkan rencana dan anggaran dicecer kembali. Kalenderpun berubah. Hitam merah, merah dan merah lagi, baru hijau. Program program temporal benar benar menguras anggaran, seperti membeli APD, masih baru lalu dibakar. Membuat mebeler peti, lalu dikubur. Dan masih banyak lagi. 

Dunia bisnis lebih tragis. Sudah berapa pengusaha yang terlaporkan menggulung tikar. Sementara lainnya, berinisiatif mengurangi sampai mengganti produk. 

Dalam hal ini, kalangan paling na'as adalah pekerja harian. Menjual perabot, lockdown. Menjual susu, lockdown. Sepertinya pandemi ini lebih menakutkan dari virus HIV. Kalau HIV, sasarannya hanya penjual sosis dan apem saja. Tapi kalau pandemi ini, penjual dua susu saja sudah di smekdon

Keluarga juga bingung. Cost harian cenderung naik. Dari listrik, konsumsi, barang habis pakai, pulsa dan internet sampai alat kontrasepsi-pun juga naik. Pelajar dimudikkan, pekerja diskors, semua penghuni rumah berkumpul. Hingga Bapak ibu kesulitan mencari waktu berromantika memenuhi kebutuhan biologisnya. Mau kapan, pagi masih ramai, siang ngobrol, sore beres beres, malam tidur bareng. Mau bareng dikamar mandi, tidak mungkin. Menyuruh anak anak beli es krim, tidak cukup satu ronde. Minta anak anak keluar bermain, khawatir pulang mendadak. Memusingkan. Lalu keduanya menjadi jabelai.

Urusan pernikahan lebih rumit. Semenjak 3 bulan lockdown, banyak pesta pernikahan dipending sampai dukun "nganten" mabuk kepayang. Tukang sound dan dekorasi galau sambil menyilang tanggal yang dibatalkan. Sang romeo dan juliet pun "mengempet" rindu kehalalannya. Beratnya. 

Benar saja, setelah pintu ijab qabul diijinkan. pendaftar nikah membeludak. Seperti semburan pertama kali onani setelah masa wiladah. "Gembrudul gembrudul". Luar biasa.

Gimana sedulur, dapat undangan berapa?

Senin, 20 Juli 2020

25 Tahun Lalu



25 tahun lalu, saya masih bermimpi. Berharap mainanku menjadi kenyataan. Superhero, penyihir serba bisa, dan apapun. Semua terasa empuk sampai tak terbangunkan.
Saat itu, usiaku baru beranjak dari balita. Bapakku pun masih sering mengajakku jalan jalan, menuntunku dengan jari telunjuk kesana kemari. Kadang membonceng sepeda jengki. Aku berdiri di "gonce'an" belakang sambil memeluk erat pundak Bapakku. Bercanda ria sepanjang jalan. Kadang terbahak bahak saat roda jengki menjulang karena menabrak batu. 
Baru, saat Bapak membeli Vespa, ramai tangisku tak tertahan untuk segera menaikinya mengelilingi desa yang gemah ripah ijo keroyo royo ini. Iya, vespa biru tua itu menjadi vavoritku untuk mengelilingi jalan bebatuan. 
Saya masih suka bermain. Dakocan, kelereng, betengan, jambretan, uthek, gobak sodor, atau lainnya. Tanpa Smartphone, tanpa kamera, tanpa jaringan dan kuota. Dan saya bahagia, selayak anak lainnya yang tak tau dimana masa depannya. 
Saat tak ada bayangan masa depan, ternyata ada pejuang pejuang tangguh yang melihatku dan kawan kawan seusiaku dengan senyum dan harapan. Masa depan panjang seakan siap diternak untuk dibenihkan. Ada desas desus seperti gelora bung Karno yang akan mengguncang semeru. Bakal bakal pemuda yang harus diterpa di lingkungan dan kultur Gandrirojo agar menjadi generasi yang berakhlak karimah dan mampu menjawab tantangan zaman.
Berdirilah MA YSPIS pada tahun 1995. Masyaallah. 
Maju maju maju.
Sampai desaku ramai ilmu dan sugih dayoh
Dayoh wali santri
Dayoh malaikat rizki

Kiyai kiyai di madrasahku
KH. SAHLAN M. NUR,
KH. ROY MUSTAR
KH. MUHDI MAWARDI
KH. MUDARIS MAWARDI
KH. MUJAHID MAWARDI
KH. FAHRURROZI
Para mu'assis
Para guru
Dan orang tua kita
Ya Allah.
Alfatihah

Sabtu, 11 Juli 2020

Pandemi corona





Pandemi telah melelahkan pemikir bangsa. Harta bangsa benar benar terkuras untuk hal yang dinilai tak penting bila dibelanjakan kala itu. Hingga pemakar bingung, langkah mana yang perlu didalangkan lagi. Dari kebutuhan kesehatan, kegiatan keprotokoleran, sistem pendidikan, sampai jual beli jenazahpun tak terlewatkan. Isunya.
Tapi pejuang negeri belum berhenti. Rakyat Indonesia pun perlu menyatukan niat dan ikhtiar untuk kebaikan negeri tercinta. Pemakar biarlah, pengisu biarlah, pembohong biarlah. Tak peduli benar bohongnya pandemi ini. Kebaikan negeri ini jauh lebih penting, karena rakyat benar benar ingin terbebas dari pandemi.




Senin, 06 Juli 2020

Artikel fiksi "PERADABAN"




Peradaban adalah bukti kehebatan Tuhan

Mana ada yang tau masa lalu akan menjadi seperti ini. 30 tahun tahun silam kita bagaimana. Lalu sekarang seperti apa. Dulu ada apa, sekarang apa saja. Dulu tradisinya seperti apa sekarang budayanya bagaimana. Sang penaqdir, lagi lagi mempermainkan mahluknya. 

1989, tepat bulan ini (April), terhitung 31 tahun saya dilahirkan. Lahir dengan selamat meski tanpa bidan. Entah ada jahitan atau sekadar param kala itu. Bagaimana sakitnya, bagaimana perihnya, bagaimana pahitnya. Entahlah, emakku yang tau.

Mbah dukun dengan sibuknya kesana kemari, tangannya tidak pernah berhenti. Ada saja yang dikerjakan. Kendati bibirnya seperti kiyai agung di podium menjelaskan anjuran, perintah dan larangan. Tak henti. Lalu diakhiri jampi dan resep seperti doa pawang hujan. Komat kamit.
Kala itu, tangisanku tak dihiraukan. Saya pun, sebenarnya tak tau apa mauku. Cukup dibungkus dengan sarung bapak dan "tapeh" emak untuk "bedong". Dan sisanya disobek untuk popokku. Dielus kepalaku sambil menggerutu. Cup, cup. Saya terdiam seakan menemukan pusar emak yang dipotong.

Bapak tak tinggal diam, setelah mengadzan-iqomahi telingaku, beliau bergegas melakukan ritual pada "Bathur" janinku (ari ari). "Bathur"ku dilayakkan dalam pendil dan dikubur  di bawah "genuk" (tampungan air) dengan banyak harapan.

Belum cukup, diriku yang masih ranum diserahkan pada Pak Dhe
"Niki pak, bayi adi ne sampean" kata Bapak untuk tabarrukan doa oleh guru, sang kiyai atau sesepuh. 
"Jan, anakmu tak jenakke "Daim". Supoyo sok ben dadi apek wiwit sampe pungkas, solih selawase, jujur lan adil tanpo pamrih lirkadyo sucining wulan poso iki. Jur mahabbah karo njeng Nabi, tak kawiti "Ahmad". Dadi jabang bayi iki kasebut "Ahmad Daim" yo Jan" kata Pak Dhe Oyan
"Geh pak" , timpal Bapak

Saat itu, budaya kuno masih melekat. Dihari selapanku, Kegaduhan tetangga dengan jamuan seadanya meramaikan rumahku. Gelak tawa Bapak menemani mereka yang sedang membahas kemesraan alam kala itu. Tidak ada kepentingan,  tidak ada politik. Semua tamu berhidmah. Memanja dengan  keluarga kami. Tak ada yang bersolek. Tidak ada skincare dan tak ada gadget.

Lampu "stongkring" yang dipompa Bapak sore itu makin meredup. Waktunya pentas. Jedor dan suara kelik kelik Pak Dhe Syukur dan rombongannya benar benar membuat seisi rumah melotot dan tidak bisa tidur.

Suaranya khas. Cempreng tanpa filter dan mikropon. Entah dimana merdunya. Kadang Keras sampai Ototnya seakan keluar tenggorokan. Ini bukan jeritan.  Kadang juga fales. 

Mereka bersyair seperti berwirid. Meski duduk bersila, Kepala begoyang seperti bertahlil. Mata merem melek begitu menghayati. Mulut seperti petelur berkokok dipagi hari. Sesekali mereka menyeruput kopi atau jahe dan menyantap ketela didepannya. Lalu menabuh jedornya lebih keras lagi. 

Seperti jam istirahat sekolah. Jam 12 malam tepat suara gaduh "jedor" dihentikan. Ada "tidor", tabuhan "badug" di masjid jame' di desaku seperti wayang kulit "tibo goro goro suluk" tepat pukul 00.00. penabuh tidor berdiri tegak menabuh "bedug" seperti orang marah, hingga berkeringat deras bak suami yang bernafsu pada malam pertama di musim kemarau. Tak ada belas kasihan, satu "bedug" dipukuli masal oleh pemuda pemuda yang baru "games gamese" makan. Gaduhnya membuat seisi desa terbangun, hingga "Tidor" berhenti, sebagai tanda masuknya waktu memasak hidangan untuk sahur.

Dirumahku, tamuku masih bersantai, menghisap "leletan" tembakau seperti vape masa kini. Satu ruangan penuh asap tanpa charger. Pasukan "jedor" siap menabuh lagi. Dengan sarung atau celana kopral, kopyah agak miring, 3 kancing baju terbuka, iga dada kurusnya terpampang hitam lebam, pasukan itu melahap bulan hingga fajar.

Sahur pun tiba. Kerlap kerlip Pelita ditengah hidangan seperti sajian romantis sejoli romeo juliet. "Tampah" dan "nampan" seperti tatanan prasmanan tertata apik dan rapi ditutup daun pisang dan jati.

Genderang perang segera dimulai. Detik detik imsakiyah menunggu "bedug" ditabuh. Rumahku seakan lebih ramai daripada saat "jedoran". Bukan ramai syairan atau tabuh instrumen "jedor". Tapi gemuruh guyup makan bersama. Saling tuding saling tolong. Saling ejek saling cibir. Tak ada sendok tak ada "entong". Pun tak ada WC untuk berak.

Seisi rumah tak ada yang diam. Semua ambil peran. Tak terkecuali aku. Tangisku semakin kencang menandingi mak cibir, Tetanggaku yang bicaranya kemrecek dan keras. Ramainya rumahku melebihi debat legislatif di gedungnya. 

Itu, 31 tahun lalu. Hari ini? Paling tidak hari ini akan jadi keunikan untuk 30 tahun yang akan datang. Bersiaplah berkesan dihari ini.

Kamis, 14 Mei 2020

The Nyincing My Adventure


"Program bantuan ketahanan pangan GP Ansor Sedan untuk warga terdampak penyebaran Virus Corona"

Bergerak itu mudah. Siapa yang tidak bisa. Dari bayi sampai tua, dari rematik sampai strok, mudah. Tapi mental penggerak siapa yang punya. bukan sembarang orang. 

Bung Karno, Wahid Hasyim, Jend. Sudirman, dan masih banyak lagi. Tapi tak lebih banyak dengan pasukan yang digerakkan. Ambyar seantero nusantara. 

Mereka seakan "punjer" sejarah pergerakan. Memang terasa sombong bila kami ingin seperti mereka. Tapi setidaknya kami ingin belajar mencontoh mereka. Bagaimana mereka melangkah. Bagaimana mereka menyikapi. Bagaimana mereka setegar itu. Setitik demi senila saja cukup, agar kami lanjutkan besok dan lusa.
 
Bersama itu, kami mulai berhidmah secara struktural di organisasi kami. Mengambil khikmah dari pejuang dilingkungan sekitar.

Dari itu, kami belajar agar bisa berguna untuk kemaslahatan umat. Dan itu luar biasa sulit. Butuh ketekunan. Butuh keihlasan. Butuh kesabaran. Butuh pengorbanan. Siap membagi waktu. Siap dicela. Siap dikritisi tanpa partisipasi. 

Taksiran yang kami rencanakan matang matang, sering dipandang sesudut mata. Langkah jauh yang kami tempuh sering di sangka hanya seujung pertigaan. Mindset positif yang kami bangun sedikit demi sedikit sering digunjing. Keseriusan yang kami garap sebagai dasar pemikiran sering dijadikan bahan canda. 

Tapi biarlah. Memang ini belajar. Belajar menjadi penggerak. Butuh rintangan agar kuat bak gunung pegat. Kalau halus mulus, namanya bukan perjuangan tapi iklan mak urut. 


Selasa, 12 Mei 2020

Lemah Jiwa



Lemah jiwa
12 Mei 2020

Dalam raga yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Sebenarnya kata mutiara ini perlu direvisi dan ditambah klausa lagi. Saya berpendapat "dengan jiwa yang sehat, bersosial menjadi bebas dan raga pasti sehat". Sepertinya lebih pas. Ini karena, psiko menjadi kausa prima organ tubuh apapun. Stres misalnya, akan menumbuhkan penyakit penyerta pada organ tubuh. Ada jantung sampai lambung, ada bisul sampai jerawat dan masih banyak lagi. Yakinilah, gaya pikiran, dan cara pandang kejiwaan menentukan arah kesehatan organ tubuh manusia. 

Pun, islam juga bersikeras dengan momentum ini. "Qalbu", begitu kiyai memaparkannya. Bila suatu tubuh, "qalbu"nya baik, maka tubuhnya juga baik. Dan sebaliknya. 

Selain itu hidup bermasyarakat juga menjadi tendensi yang cukup kuat dalam menentukan kejiwaan seseorang.

Tapi ini tidak bisa seremeh itu. Sehatnya raga tentu dapat dikira. Sehatnya jiwa hanya diri dan tuhan yang tahu. Tapi mudah saja, berkebiasaan unggul, bersosial dengan baik, berpikiran positif, bersyukur atas semua kejadian, cukup itu dulu.
Tapi sepertinya, hal tersebut mudah diucapkan, dan berat dilakukan. 

Menjadi diri yang tabah dan  puas atas nikmat yang diberikan tuhan hari ini benar-benar sulit. Seperti tantangan yang luar biasa. 

Ini belum musibah atau cobaan. 

Jerawat misalnya. Duh, malunya. Jadi bahan gunjingan. Dari mikir siapa sampai dipikir siapa.

Baru malu, bagaimana dengan Pilek. kerja tak enak, ngedate tak enak, tampil tak enak. Mau apapun canggung semua. "Srag srug", merananya. 

Baru begitu, bayangkan sariawan. Mau ngomong susah, mau makan perih. Mau minum perih. Ah, hilang selera. 

Apanya, belum sakit gigi. Jangankan dipegang, baru mendengar suara keras saja sudah nyut nyut. Apalagi pas tidak sengaja kena makanan, bikin ngilu. Sampai menetes eluh mata.

Ada rematik juga. Sendi terasa linu. Mau berdiri repot, jalan cepat lelah, pas rebahan seperti dipukuli orang sekampung.

Ada Demam, semua jadi letih, lunglai, badmood.
Atau juga lemah syahwat. Bayangkan saja. "Plek plek, udah. Sisanya main sendiri. (Sensored by 18+)

Ada Sesak nafas. Air sebagai sumber kehidupan saja, lebih penting nafas. Ini sesaknya bukan main. Nafasnya seakan tinggal hitungan jari. Serasa mau naza'. Mau kerja? Kerja apanya, tak berdaya dibuatnya. 

Ada udun atau bisul pada dubur dan ambeyen. Mau jalan saja seperti kena osteoporosis leter o. Ini belum ketika mau buang air besar. Apalagi yang keluar pas padat. Waw. Seakan Nyesel makan. 

Ada jantung, liver, diabetes, kanket,  dan masih banyak lagi

Semua punya cerita keluhan. 

Hari ini, bila kebetulan kita sehat, maka agungkan nama tuhanmu dan jagalah kebesaran nikmat tuhanmu ini

Namun bila engkau diberi anugerah sakit, bersyukurlah, ternyata ada keluhan lain yang lebih besar yang tidak engkau derita.

Dan bila kita mendapati saudara kita yang kurang beruntung, mari bantu jiwa dan raga, lalu doakan, semoga tuhan menyayanginya dan menjauhkan kesialannya dari kehidupan kita

Minggu, 26 April 2020

3 Dekade Koncret


3 Dekade Koncret
Pengalaman adalah guru terbaik. Pepatah ini terkenal sampai terpapar di sampul dan alas buku sekolah. Tapi Sepertinya pepatah ini terpotong. Seharusnya, "pengalaman adalah guru terbaik untuk orang yang ingin memulai". 
Padahal memulai itu, "Gampang".  Tapi banyak yang bingung mencari kemudahan. Memulai, "siap". Tapi banyak yang tidak sanggup. Memulai dari, "sekarang". Tapi esok pun belum tiba.
.
Memang dunia ini membingungkan. Memulai dan mengakhiri adalah kata yang mudah, segampang membalikkan tangan, siapa yang tidak bisa. Tapi butuh tekad dan pengorbanan kuat untuk melaksanakannya. Memulai hal baik dan mengakhiri hal buruk adalah kunci. Kunci...? 
Kunci kesulitan. Saya pikir ini sulit. Untuk melakukan nya memerlukan kontrol emosi, kontrol perasaan, kontrol harga diri dan nafsu lainnya. Bila anda seperasaan, berarti kelas kita sama. 
.
Namun pengalaman membuat kita berpikir lagi. Ternyata ada yang lebih sulit lagi, yaitu memulai membiasakan hal baik dan mengakhiri kebiasaan buruk. Ini adalah kelas super. Super sulit.
.
Bagaimanapun, bila kejadian di dunia ini sudah dijadikan pepatah, pasti mayoritas benar. Watak dan watuk misalnya. Bahwa watuk (batuk, red) ada obatnya, tapi watak sangat sulit diubah. Bukankah ini sudah menjadi primbon wajib dalam pepatah. Maka benar adanya, ini menjadi kelas super. 
.
Tapi lagi lagi, ada resep agar lulus di kelas ini. Yaitu "asam garam". Percayalah, dengan memperbanyak makan "asam garam", semuanya akan jadi mudah. Tak akan ada yang sukar. Tapi Ingat, ini hanya resep, bukan ujian, tidak ada sertifikat dan ijazah. Ingat pula, kita ini hidup di negeri kertas, bukan negeri "jangan asem". 
.
Bila kau sudah bisa membuat "jangan asem", kau akan berkata, "namun bila kau mengalami kesulitan atas suatu hal, berbagialah, karena kau pasti dapat menyelesaikannya. Sejatinya kesulitan adalah tidak mengetahui kesulitan itu sendiri. Sejatinya kesusahan adalah tidak mengetahui masalah itu sendiri.
Maka bila kau merasa keberatan menyelasaikan masalah, engkau perlu membuat skema, membuat klarifikasi, membuat analisis. Jangan meratapi.
.
Memang menasehati itu mudah. Yang sulit adalah seleksi menjadi penasehat. Tapi biarlah. Toh, Pengalaman berbanding lurus dengan kematangan usia. Hari ini, genap aku mengulang ke 31 usiaku. Tapi asam garam ku masih sekuku. Belum cukup untuk membuat "jangan asam". Masih labil, masih emosional, masih lebay.

Tuhan, bantu hamba memperkaya hati ini
Bantu hamba memperkaya hati keluarga hamba
Allah, khusnul khatimahkan hidup hamba


Gandrirojo, 20 April 2020

Sabtu, 25 April 2020

SEPANTASNYA RAMADHAN

Ramadhan adalah syariat islam. Sebenarnya ada banyak yang serupa. ada uposatha-nya budha, ada siwa ratri dan nyepi-nya Hindu. Ini belum prapaskah-nya Katholik yang lebih lama. Semua dari tuhan. Biarlah masing masing menganutnya, tapi Indonesia tetap menghormati kepercayaan warga negaranya. 
.
Memang urusan satu ini sensitif. Maka benar indonesia mengatur nya. Kurang apa UUD 1945, mengatur rigit tentang kepercayaan itu. Sudah kuat dengan 28, ditegaskan lagi dengan 29, dan masih banyak peraturan yang lain.
.
Saya setuju, setiap agama memiliki ritual masing masing. Tapi ramadhan berbeda. Ada tradisi unik non syar'i yang hanya bisa dijumpai di bulan ini. 
.
Tradisi hijab gorden misalnya. Warung warung kompak ria. Seperti ada intruksi, atau sanksi bila tidak memasangnya. Ibarat sejoli bertemu setelah wisuda, penjaja pun bermalu kucing. ambil antara untuk parkir lalu memeriksa 8 arah mata angin seperti takut tertular Corona. APD (Alat Pengaman Diri)-nya lengkap, ada helm, masker, bila masih rawan "terdampak",  Mungkin baju hazmat. Tradisi ini sangat merakyat, terutama untuk pekerja berat. berat menahan lapar misalnya.
.
Tradisi lainnya adalah tradisi hijab musiman. Sebenarnya agak canggung. Seperti Waitress, pramutama, PK atau istilah lainnya disebuah bar, kasino, warung billiar, tempat karaoke
atau tempat lain sebagainya. Tapi biarlah. Hidayah tuhan siapa yang tau.
.
Sebenarnya masih banyak tradisi lainnya, seperti tradisi taubat berkala, tradisi taat berkala, tradisi mengaji musiman, tradisi jalan pagi musiman, tradisi ngabuburit musiman, dan lain lain. 
Sebagian warga berasumsi, hal tersebut hanya sepantasnya berramadhan, dan berramadhan sepantasnya, sebagian lain karena motif ekonomi dan gengsi.

Tapi apapun itu, semuanya perlu dihormati. 
Mungkin pembaca juga punya tradisi lain yang hanya dijumpai saat ramadhan?