Rabu, 30 Januari 2019

Reformasi pemilu


Pemilihan umum yang berkualitas adalah pemilihan yang berdasarkan aspirasi pemilih yang beri’tikad baik kepada calon terpilih yang berintegritas tinggi untuk kebaikan bangsa dan negara. Melalui definisi ini, ada dua unsur paling penting, yaitu pemilih dan calon terpilih. Bila keduanya sudah memiliki komitmen yang kuat untuk kebaikan bangsa dan negara, tentu pemilihan umum adalah bukti perwujudan sarana demokrasi yang luar biasa. Pemilihan umum demikian akan melahirkan pemimpin bangsa yang akan menepati janji-janjinya dengan bersikap aspiratif dan memunculkan solusi-solusi kreatif dalam menyelesaikan problem negara.
Dalam hal ini, konsep Nabi Muhammad SAW perlu dicontoh, bahwa pemimpin yang layak adalah sosok yang bersedia lapar kali pertama dan kenyang kali terakhir demi warganya. Ini menarik. Ketulusan menjaga aspirasi rakyat indonesia menjadi prioritas dari pada kepentingan pribadi atau kelompok tertentu. Sementara itu, Pancasila, UUD, NKRI, dan bhineka tunggal ika dijadikan prinsip idealisme yang tangguh. Sosok seperti inilah yang diharapkan terpilih memimpin bangsa dan birokrasi di Indonesia.
Ironinya, dewasa ini pemilihan umum dirasa semakin jauh dari khazanah ruhnya. Diakui atau tidak, pemilihan umum dirasakan sebagai pesta politik kaum “bersaku” dan kaum “bertangan panjang”. tak peduli identitasnya, kiprahnya, rekam jejaknya, yang berani membayar akan mendapat kantong suara banyak, yang memiliki komunitas besar akan mendapat uluran banyak tangan.
Hal ini terjadi karana banyak faktor, seperti peserta pemilu yang kurang kompeten dan pemilih yang minim komitmen. Menurut Ramlan Surbakti (1992:181) pemilihan umum pada hakikatnya merupakan penyerahan kedaulatan kepada orang yang dipercayai. Definisi semacam ini sering diremehkan. Pemilih yang minim komitmen akan memilih siapapun yang “berada di atas tangannya”. Sementara pemilih yang berkomitmen kuat kebingunan mencari sosok pemimpin yang berintegeritas. Ini masalah besar, keduanya tidak akan bertemu pada sisi baik. Dan akhirnya kedaulatan rakyat akan terancam selama 5 (lima) tahun mendatang.
Memang rakyat menjadi pilar penting dalam pemilihan umum. Mereka memposisikan dirinya sebagai partisipan dalam menentukan kebijakan politik dengan mendukung salah satu kontestan untuk menjaga aspirasi dan kepentingan rakyat. Tapi sering dijumpai, rakyat yang jemu atas pergantian roda pemerintahan yang tidak jauh beda. Janji janji manis sebelum pemilihan umum menjadi bungkus penyedap yang tidak sesuai dengan isinya. Setelah terpilih, lagi lagi tidak membawa perubahan yang baik. Itu dan itu, begitu saja. Perasaan semacam ini ternyata menjadi kebiasaan yang mendarah daging. Rakyat menjadi tidak percaya terhadap “jalu” pemerintah. Akhirnya, setiap ada pemilihan umum, anggapan pertama kali yang muncul adalah NPWP “Nomor Piro Wani Piro” (pilih nomor berapa, berani memberikan suap berapa, red). Bila “tumbu ketemu tutup”, anggapan yang keliru mendapatkan tanggapan yang keliru, maka legitimasi politik hasil pemilihan umum menjadi formalitas. Lagi lagi nasib rakyat indonesia dipertaruhkan 5 (lima) tahun demi selipat rupiah yang tidak besar. 
Pelaksanaan UUD 1945 pasal 1 ayat 2 bahwa “kedaulatan berada ditangan rakyat dan dilaksanakan menurut undang-undang” tidak sepenuhnya dirasakan oleh rakyat. Padahal sebagai eksplorasi UUD 1945, kedaulatan rakyat ini penting. Rakyat yang berdaulat tidak bisa memerintah secara langsung, Tapi aspirasi dan kepentingan rakyat perlu diartikulasikan menjadi undang-undang yang pro rakyat. Oleh karena itu seharusnya pemilihan umum memberikan ruang kepada rakyat memilih wakil-wakilnya untuk “menjaga” kedaulatannya bukan malah “membeli” kedaulatannya.
Memang tidak mudah melangsungkan pemilihan umum yang berkualitas, perlu adanya peserta pemilu yang kompeten dan pemilih yang berkomitmen tinggi. Selain itu juga ditunjang regulasi yang mengatur hingga detail dan tidak multi tafsir, misalnya tenang money politic dan netralitas birokrasi yang “licin” dikenai pasal. Komposisi ini harus didampingi oleh penyelenggara pemilu dan birokrasi yang netral dan adil.
Pada dasarnya akar masalahnya adalah pada mental dan pikiran rakyat indonesia yang tidak memiliki cita-cita untuk menjadikan indonesia bangsa yang  besar. Oleh karena itu, perlu adanya perubahan signifikan dalam diri rakyat indonesia secara kontinue dan akseleratif. Rakyat indonesia harus menjadi insan baru yang berintegritas, mau bekerja keras, dan punya semangat gotongroyong seperti yang diamanatkan Soekarno, presiden RI pertama.
Perubahan ini tentu tidak secara serta merta dan teori blaka. setiap warga yang memiliki kesadaran pentingnya pemilihan umum yang bermartabat diharapkan menjadi “agen reformasi”. Bukan muluk-muluk, tapi dimulai dari dirinya sendiri dan kerabat paling dekat. Bila sudah memadai, kerabatnya diminta mengajak kerabat lain atau sahabatnya, lalu sahabatnya mengajak kerabatnya dan seterusnya.  Mata rantai ini memang tidak seefektif sihir jin yang menghilangkan kasus korupsi dengan satu “cring” pada iklan salah satu rokok. Tapi secara berkesinambungan, mata rantai ini akan membawa indonesia lebih baik.
Para “agen reformasi” bukan sekedar kampret dan cebong yang mudah goyah atau fanatik tapi tidak berdasar. mereka adalah kader yang selalu meningkatkan Sumber Daya Manusianya dengan pendidikan berkarakter dan religius. Ini adalah modal dasar. Penting. Proses tersebut merupakan bekal untuk menjadi generasi yang mandiri menjaga keutuhan NKRI tanpa disentegrasi dengan mempersiapkan diri untuk menghadapi masa depan. Dan tentunya dengan memodifikasi perkembangan zaman dengan berpegang teguh kepada konsesus nasional.

Jumat, 25 Januari 2019

Makalah pengaruh dan perkembangan ilmu alamiah terhadap kehidupan manusia

Makalah pengaruh dan perkembangan ilmu alamiah terhadap kehidupan manusia
1. Halaman depan
2. Isi makalah

Apresiasi sastra "Robohnya Surau Kami"

Ibu




Emakku

Sebentang kasih terurai sepanjang masa


Benar kata KH. Anwar Zahid, kasih orang tua dan anak ibarat betis dan mata. “Tol tol tobeseli, totol tol rabeseli, kentol kecantol moto mbrebes mili, moto kencatol kentol ora mbrebes mili” (bila betis tersangkut, mata menangis, tapi bila mata kelilip, betis tetap diam, red). Bila betis luka, mata merasakan. Sebaliknya,  Sebagaimanapun mata meneteskan air mata, betis tetap pada imamannya.

Itu real dan mayoritas. Dalangpun akan tak akan kehabisan lakon bila menceritakan kisah kasih orang tua. Begitu juga aku tentang makku.

Inilah emakku

Kadang persepsi klasik membuatnya beda. Apalagi prinsip keibuan. Beda dengan anaknya, beda dengan saudaranya, beda dengan tetangganya.

Emakku adalah seorang anak yang mendapat warisan tak sebanyak saudara-saudaranya, emakku adalah ibu yang pesimis. Ketika bapakku masih hidup, Emakku hidup dengan misi, tapi tidak dengan visi. Hari ini adalah keluarga, maka besok juga untuk keluarga.

Hidup Emakku adalah semua tentang bapak.  Pengabdiannya sebagai seorang istri melampaui batas. Beliau melihat tuhan dalam sosok bapak. Lalu dia bertawakkal sejadi-jadinya sampai tidak mampu berfikir hari esok akan ada apa. Apalagi cita-cita.

Dari bapak sebungkus “kresek” bekal sehari dua hari. Diterima. Entah apa isinya. Entah apa untuknya. Entah cukup. Entah dari mana. Bila ada lagi, maka selembar kertas dan beberapa koin tersisih. Untuk anak. Begitu. Esokpun begitu. Lusapun begitu. Sampai kapanpun, begitu. Lalu tersenyum bahagia. Sedikit senyum sudah cukup untuk kehidupan kecil. Nikmat mana lagi yang bisa didustakan, bila dunia sudah mengecil seperti ini.

Bila semua sudah dicukupi, buat apa mencari hal lain ke luar rumah. Itulah Emakku. Saya pun tidak bisa membedakan, ini kemesraan?, kesetiaan?, perjuangan?, kebahagian?, kesederhanaan?, kehebatan?, atau semuanya?. Memang sejatinya hidup tidak ada yang eksak.

Beliau tidak berfikir, di dunia keras ini banyak hal yang akan terjadi tidak seiring not not paduan suara yang telah dilatihkan. Taqdir. Tuhan lebih penguasa dari rezim manapun. Apalagi Soeharto, Adolf Hitler pun tak berarti. Bapak “tiada”.

Tangisan? Bukan. Air mata pun tidak mengalir. Hening ditengah jeritan tetangga, saudara. Sambil meneguk air liur, menghirup nafas dalam dalam. Merapatkan bibir sambil tersenyum sempit. Sesekali memejamkan mata. Menoleh sudut sudut rumah. Kosong.  Hingga 40hari. Tidak ada makan.

Bukan nasibnya yang diratapi. Tapi hidup anaknya.

Mulai beranjak dari keterpurukan kemesraan. Dagang nasi uduk. Hidup baru, harapan baru, kisah baru, cara pandang baru, cara hidup baru, keluarga baru, tanpa bapak. Semua baru. Selangkah demi setangga dilalui. Tak ada kesedihan. Atau memang di kamar tempat ratapan. Entahlah. Hingga tua. Renta.

Kini gaya hidupnya mendarah. Tulangnya pun tak kuasa memilah. Mana mungkin kaki menjadi kepala, kepala menjadi kaki bila bukan seorang single parent tanpa keahlian, pengalaman, dan pendidikan menafkahi 5 (lima) anggota keluarga. Tak peduli seberapa lemahnya, sakitnya, anak tetap nomor satu. Hingga anak bukanlah anak. Hingga anak menjadi “orang”.

Kini semua anaknya berharap untuk membalas budinya. Tapi Emakku terjebak dalam nostalgia. Tidak peduli seberapa manis rayuan, seberapa keras larangan, Emakku tidak mau berhenti mencari nafkah. Bukan untuk anaknya, tapi setidaknya beliau tidak ingin menjadi tanggunan anak. Beliau tidak mau menjadi beban anak. Beliau tetap ingin berkiprah.  


Emakku adalah figur single parent yang tidak ada duanya. Keunikannya membuat beda dengan yang lainnya. Kadang anak-anaknya tidak mampu mengartikan arti lemahlembutnya yang dibalut dengan kemarahannya saat keinginannya tidak segera dilaksanakan.

Emakku sangat gemar memberi. Bahkan saking gemarnya, tidak jarang Emakku sengaja membuat makanan, khusus untuk diberikan kepada orang-orang. Kadang membuat makanan untuk dimakan tapi diberikan kepada orang hingga anaknya tidak “keduman”. Tidak satu dua kali saya kehabisan makanan karena telah diberikan orang. Sering juga Emakku memarahi anaknya bila tidak sesuai dengan kegemarannya yang satu ini. Selain memberi, Emakku juga pantang untuk menolak pemberian orang lain. Apapun itu.

Emakku mengajarkan dengan tindak-tanduknya sendiri kepada anaknya untuk ramah. Selalu menyapa kepada siapapun yang ada disekitarnya. Meskipun tidak kenal sekalipun kepada orang yang bermasalah dengan dirinya. Awali menyapa dengan sapaan hormat atau pertanyaan yang membanggakan hati orang tersebut. Jangan sombong, “ojo gumede”. Kebiasaan Emakku ini membuat Emakku tidak akan kehabisan lakon saat bercengkerama. “nerocos koyo tenong ra ono pojokan”

Bukan mitos, bahwa setiap orang tua sangat pintar membuat petuah atau kata-kata bijaksana. Begitu juga dengan Emakku. Beliau suka menasehati dalam hal baik. Kata-kata yang sering diamanatkan adalah jadi orang kudu seng jujur, apek karo lian, ben dadi wong seng dibagusi.

Emakku punya kebiasaan buruk, yaitu jijik bila ada pekerjaan belum selesai terserak. Emakku adalah orang yang disiplin. Beliau membagi tugas pekerjaan rumah kepada anak-anaknya. Tapi tidak jarang Emakku merampungkan tugas anaknya. Beliau tidak bisa istirahat bila semua pekerjaan rampung. Terutama masalah kebersihan dan kenyamanan rumah. Sementara beberapa anaknya suka menunda-nunda pekerjaannya. Ini yang membuat beliau harus bekerja ekstra.

Saya menyesal, takut menyesal.

Takut suatu saat sosok Emakku tak berhadapku lagi. Tapi tak ada yang bisa kuperbuat. Pendirian Emakku begitu tangguh. Susah untuk menggoyahnya. Pemanjaannya begitu hebat. Pendidikan kepada anaknya juga tak kalah. Meskipun kini raganya tak sekuat dulu. Meskipun secara praktis beliau tidak punya uang, tidak ada pemasukan karena dagang nasi uduknya di monopoli salah satu anaknya.

Memang Emakku tetaplah Emakku. Sedangkan anak adalah prioritas. Harapan untuk “njunjung duwur mendem njero” harkat dan martabat keluarga.

Beliau tidak akan makan bila anaknya belum mendapatkan jatah lebih baik. Apalagi kepadaku, putra sulungnya. Bahkan Emakku sering mengantarkan makanan khusus buatku.

Bubur mutiara. Leleh saja air mataku. Beliau membeli nya. Tiga. satu untuk anak lainnya. Satu untuk cucunya. Tinggal satu, sudah ku tolak berkali kali dengan berbagai dalih, dari “nang pangan dewe” sampai “wes wareg” agar dia memakannya sendiri, tapi tetap beliau antarkan ke kemarku. Sementara beliau makan bubur mutiara sisa. Entah sisa siapa. 







Laukpun juga sering disisihkan untukku. Meskipun berkali-kali ku tolak dengan alasan apapun, tetap saja tidak “mendo” (peduli). 

Semoga emakku diberikan kesejahteraan, umur panjang, rizki yang melimpah,  sehat, dijauhkan dari segala penyakit dan kegelisahan hati, agar bisa bermain bahagia dengan cucu-cucu dariku.
dan jadikanlah aku anak yang sehat, jujur, rajin, yang mencapai cita-citaku yang tinggi dan membanggakan bagi emakku

Emakku, Washilah  
Ghafara Allahu Laha Wa yarham ha

Kamis, 24 Januari 2019

Soal+kunci Ulangan harian mata pelajaran IPS kelas VIII kurikulum 2013 bab Interaksi Keruangan dalam kehidupan di Negara Negara ASEAN

Berikut ini kami usulkan soal dan kunci jawaban soal dan kunci jawaban ulangan harian mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial kelas VIII versi kurikulum 2013 BAB INTERAKSI KERUANGAN DALAM KEHIDUPAN DI NEGARA-NEGARA ASEAN
kunci jawaban tersemat dalam pilihan ganda dengan kode xxx
Manfaatkan seperlunya
download

Proposal PKD GP Ansor





Proposal PKD GP Ansor 2018
Download proposal versi pdf di sini
download proposal versi word disini 
 manfaatkan seperlunya.
 



PIMPINAN ANAK CABANG
GERAKAN PEMUDA ANSOR

KECAMATAN SEDAN KABUPATEN REMBANG

Sekretariat: Jl. Sedan Pandangan KM 03 Desa Sidomulyo Kec. Sedan Kab. Rembang Hp: 085234816689
Nomor          : GP.A /Sedan/48/VI/2018                                                                         Sedan, 10 Juni 2018
Lamp            : 1 ( satu ) bendel
Perihal           : Permohonan

                        Yang terhormat Ketua Pimpinan Cabang

                                    GP. Ansor Kabupaten Rembang
                        Di
                                                Rembang


Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Salam silatur rahim, semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan kepada kita untuk menjaga amanah ulama’ dalam menjunjung kesatuan dan persatuan bangsa menuju keutuhan NKRI jaya, amin.
Selanjutnya terkait dengan program kerja GP. Ansor Pimpinan Anak Cabang  Sedan tentang kaderisasi anggota melalui kegiatan Pelatihan Kepemepimpinan Dasar (PKD), maka dengan ini kami mengajukan permohonan kepada sahabat untuk dilaksanakannya kegiatan tersebut di tingkat Anak Cabang Sedan pada:
Hari       : Rabu sd. Kamis, 11-12 Juni 2018
Waktu    :  08.00 - selesai
Tempat  : MTs. Hidayatus Sibyan Karangasem,
                 Jl. Sedan Kragan KM.03 Desa Karangasem Kec. Sedan Kab. Rembang
Demikian permohonan ini kami ajukan dan atas terkabulnya permohonan ini kami mengucapkan terimakasih.
Wallahumuwaffiq ilaa aqwami thariq
Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

PANITIA PELAKSANA
PELATIHAN KEMEPIMPINAN DASAR (PKD)
GP.ANSOR PAC SEDAN



                                Mengetahui,

                  Ketua GP. Ansor                                    Ketua,                                   Sekretaris

                      PAC. Sedan



                  MUHLISUDIN                   NUR ADI PRIA PRATAMA        AHMAD ROZIKIN
 
PROPOSAL
PELATIHAN KEMEPIMPINAN DASAR (PKD) GERAKAN PEMUDA ANSOR
KECAMATAN SEDAN KABUPATEN REMBANG
TAHUN 2018

1.        Pendahuluan

NU, adalah suatu organisasi yang besar. Tentunya kader NU lebih berkomitmen untuk menjadikan paradigma kaderisasi sebagai norma dalam bingkai pergerakan menuju program dan kegiatan nyata yang lebih menekankan kepada sisi intelektualitas kader dari pada yang bersifat formal. Keharusan mengasah intelektualitas kader untuk memberikan sebuah inovasi sistematis demi menjaga marwah organisasi dengan mengedepankan akan kebutuhan ilmu pengetahuan sangat dibutuhkan.

Selama ini, pola kaderisasi yang dibangun hanya terfokuskan pada satu sisi, yaitu sisi melakukan kegiatan formal saja tanpa melihat sisi lainnya. Intelektualitas kader yang juga harus diimbangi dengan kegiatan informal dan nonformal yang lebih menekankan pada luasnya disiplin ilmu pengetahuan, ternyata masih belum maksimal. Bahkan, jarang dilakukan oleh struktural NU di seluruh level kepengurusan. Dampaknya, sangat sedikit dari sekian jumlah kader yang banyak secara kuantitas tidak dapat keluar menjadi inisiator dalam menumbuh kembangkan kreativitas yang nyata. Kader hanya terbatasi oleh acara seremonial belaka yang itu semua sudah menjadi suatu kewajiban bersama untuk dilakukan secara berkelanjutan, tapi tidak diimbangi dengan pola penyempurnaan nyata kebutuhan akan kualitas intelektual kader itu sendiri.

Struktural NU sebagai penanggung jawab penuh, harus gencar mempromosikan bahwa paradigma kaderisasi wajib ditekankan pada muatan informal dan nonformal. Agar kader tidak memandang bahwa kegiatan formal menjadi kompetisi menuju perbaikan pola kaderisasi, tapi bagaimana struktural NU mampu memfasilitasi kegiatan yang memberikan nilai lebih pada kader dengan prioritas yang sama terhadap kegiatan informal dan nonformal.

Harus dipahami, kegiatan formal kaderisasi hukumnya wajib dilakukan oleh struktural NU dalam rangka mempersiapkan benih-benih generasi struktural tadi. Namun, jika struktural NU hanya memfokuskan diri pada kegiatan formal, maka disitulah letak stagnasi kader yang tidak peka membaca peluang pentingnya membekali calon generasi struktural tadi dengan muatan intelektual yang memadai.

Dengan keadaan demikian, maka struktural NU akan mengalami kepincangan pada proses perjalanannya nanti. Kader selalu di tuntut untuk tidak berpikir sempit, karena kader adalah orang yang diharapkan akan memegang peranan penting dalam sebuah organisasi. Mampu memilah dan memilih sebagai strategi kaderisasi dibutuhkan dari pada sekedar mengedepankan keinginan eksklusif yang tidak berdasar. Kompetisi itu harus memberikan efek lebih dari hanya sekedar loyalitas terhadap organisasi.

Di lain sisi, kader dituntut bergerak solutif dalam merangsang gaya berpikir yang luas dengan saling membutuhkan satu sama lainnya. Kompetisi penting untuk digiatkan, mengingat akan pentingnya rangsangan semangat untuk bergerak bersama-sama dalam menggapai cita-cita dan tujuan organisasi. Namun, bukan sekedar kompetisi pada tahap kegiatan formal saja, melainkan juga memberikan porsi yang sama atau bahkan lebih kepada kegiatan informal dan nonformal. Bukankah pendiri NU mengajarkan yang demikian? Dengan rumusan kerangka refleksi, aksi dan ideologis, ketiganya menekankan akan terciptanya peluang dan mendorong gerak organisasi serta melandasi kader dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan keorganisasian demi terwujudnya cita-cita dan tujuan organisasi.

Harus dicermati bahwa tidak menitik tekankan pada kegiatan formal, melainkan kegiatan-kegiatan organisasi yang tafsirnya sangat umum. Karakter sebagai organisatoris harus terbangun dengan kesadaran akan pentingnya mencapai sebuah cita-cita dan tujuan bersama dalam mengembangkan keorganisasian dengan baik. Merawat eksklusifitas tanpa memperdulikan keadaan, tidak mencerminkan kader seperti yang telah tertuang dalam prinsip dasar NU. Melihat pada aspek tersempit tanpa berdasarkan analisa menyeluruh, membutakan kader akan pentingnya memperjuangkan cita-cita dan tujuan organisasi sebagaimana mestinya. Tanggug Jawab Bersama Para pimpinan struktural bersama dengan pengurus lainnya sudah harus membuka cakrawala berpikir yang luas dalam melihat tuntutan zaman.

NU akan menjadi dinamis bila mana tanggung jawab bersama seluruh komponen terbangun dan mampu direalisasikan secara baik. Melihat peluang bahwa melakukan inovasi secara berkelanjutan akan memberikan nilai lebih terhadap tumbuh kembangnya kader NU dengan tingkat intelektualitas yang memadai kedepannya. Penting untuk menghindari jebakan akan kompetisi berupa kegiatan formal atas dasar kesanggupan. Tidak melihat sisi lainnya, justru akan semakin memupuk karakter kader yang eksklusif terhadap dirinya tanpa melihat kondisi sekitarnya. Eksklusifitas kader akan berbahaya, jika menyerang wadahnya. Secara tidak langsung, eksklusifitas kader tadi akan menjadi eksklusifitas organisasi tanpa melihat sisi lainnya.

Oleh karena itu, guna mengkader generasi NU, Gerakan Pemuda Ansor bekerja sama mengadakan kegiatan pengkaderan dalam kegiatan Pelatihan Kemepimpinan Dasar (PKD) dengan tema Mendidik pemuda NU beridealisme, menggaris sejarah dan takdir baldatun toyyibatun




2.        Nama dan tema kegiatan

Kegiatan ini bernama “Pelatihan Kemepimpinan Dasar (PKD) GP. Ansor  Pimpinan Anak Cabang Sedan tahun 2018” dengan tema “Mendidik pemuda NU beridealisme, menggaris sejarah dan takdir baldatun toyyibatun”.


3.        Tujuan kegiatan

Tujuan kegiatan ini adalah sebagai berikut:

1)        Pewarisan Nilai – nilai

Kaderisasi sebagai suatu yang ideal merupakan media dimana nilai – nilai seperti Aswaja (Moderat, toleran, kasih sayang), berilmu, beramal, cakap, bertanggung jawab, berakhlakul karimah, Tradisi, etos perjuangan, militansi dan tanggung jawab sosial, disebarkan kepada ”Generasi baru ”. Namun demikian bahwa penanaman nilai itu tidak cukup hanya dengan waktu 1 atau 2 hari. Karenanya, kaderisasi merupakan suatu awal dimana proses pendidikan dimulai.

2)        Pemberdayaan Anggota

Kaderisasi merupakan arena penguatan atau pemberdayaan generasi, membantu mempercepat proses intelektualisasi serta penyadaran generasi dalam sosialitas dan historisitasnya.

Argumen ini mengharuskan bahwa kaderisasi menyediakan fasilitas dan ruang bagi kader dalam proses pembelajarannya secara sistemik sesuai pluralitas potensi kader. Kecenderungan dan minat bakat kader harus difasilitasi terutama pasca kaderisasi formal.

3)        Memperbanyak anggota dan regenerasi

Jumlah anggota merupakan salah satu icon keberhasilan organisasi, sebab secara obyektif dirasakan dibutuhkan oleh pelajar, remaja dan santri. Sehingga kaderisasi merupakan media memperbanyak jumlah anggota. Selain itu, sebuah organisasi juga membutuhkan Human resources untuk melaksanakan kerja-kerja organisasi.

4)        Persaingan antar kelompok.

Dorongan yang tanpa disadari memiliki agenda tersembunyi, yakni rivalitas antar organisasi lainnya. Kader dipersiapkan untuk bersaing dengan kelompok lain. Karenanya politik identitas menjadi agak dominan. Persaingan ini bisa sehat, bisa tidak, tergantung pengelolaan.

5)        Melaksanakan Mandat Organisasi

Kaderisasi yang didorong oleh mandat organisasi atau kewajiban organisasi agar tidak kehabisan kader sehingga menjadi keniscyaan sebuah organisasi, karenanya menjadi agenda rutin.




4.        Manfaat dan Sasaran

Manfaat dan sasaran kegiatan ini adalah sebagai berikut:

1)        Menyadarkan pemuda islam akan kewajibannya memperjuangkan cita-cita islam

2)        Meningkatkan mutu pendidikan dan pengajaran

3)        Mempergiat pendidikan rohani dan jasmani dalam rangka mewujudkan masyarakat islam

4)        Membimbing dan membantu tegaknya Kepanduan Ansor

5)        Meningkatkan kerjasama dengan organisasi pemuda lainnya, baik di dalam maupun di luar negeri

6)        Meningkatkan berbagai kegiatan-kegiatan olah raga, kesenian dan kemasyarakatan

7)        Mempelajari dan memperdalam serta mengamalkan ajaran islam ala Ahlisunnah Wal Jamaah dengan sungguh-sungguh dan sebaik-baiknya.

8)        Mempersatukan gerak langkah generasi Nahdlatul Ulama pada Khususnya dalam menciptakan masyarakat adil makmur yang diridlai Allah SWT.

9)        Melaksanakan nilai-nilai budi pakerti utama dalam kehidupan sehari-hari

10)    Meningkatkan kwalitas (mutu), harkat dan martabat gender, guna memperkuat tanggungjawab terhadap agama, bangsa dan negara

11)    Mengusahakan agar wanita Indonesia mumnya dan Muslimat NU khususnya menjadi istri-istri dan ibu-ibu yang baik guna pertumbuhan bangsa yang taat beragama

12)    Bergerak secara aktif dalam lapangan peribadatan, sosial, kesehatan, pendidikan, penerangan atau da’wah, ekonomi dan usaha-usaha kemasyarakatan lainnya

13)    Membina kerjasama dengan badan-badan dan organisasi wanita serta lembaga-lembaga lain

5.        Kepanitiaan

Terlampir

6.        Peserta

Rencananya, kegiatan ini diikuti oleh anggota Gerakan Pemuda Ansor dari ranting-ranting desa Sekecamatan Sedan Kabupaten Rembang. Dengan pembagian sebagai berikut:

a.    Perwakilan dari ranting (@4 x 21 desa)     :          84  orang

b.    Dari PAC lain                                               :          10 orang

c.    Lembaga pendidikan sekecamatan             :          20  orang

d.   Panitia                                                         :          30 orang

7.        Estimasi Materi


  1. Perkenalan
  2. Kesepakatan belajar
  3. Aswaja dan ke-NU-an
  4. Ansor
  5. Citra diri
  6. Islam dan wacana kebangsaan
  7. Analisis sosial
  8. Demokrasi dan HAM
  9. Pembangunan dan otonomi daerah
  10. Komunikasi
  11. Kepemimpinan dan keorganisasian
  12. Kewirausahaan
  13. Rencana tindak lanjut


8.        Pelaksanaan

Kegiatan ini dilaksanakan pada:

Hari       :   Rabu sd. Kamis, 11-12 Juni 2018 
Waktu    :    08.00 - selesai 
Tempat  :    MTs. Karangasem, Jl. Sedan Kragan KM.03 Desa Karangasem Kec.                            Sedan Kab. Rembang

14.    Anggaran

Sumber dana kegiatan ini berasal dari donatur dan iuran anggota GP. Ansor Pimpinan Anak Cabang Sedan dengan rincian sebagai berikut

NO
RENCANA PENGELUARAN
ALOKASI DANA

NO
RENCANA PENGELUARAN
ALOKASI DANA
1
Pembukaan
1.000.000

7
Pemateri (14 orang x Rp.100,000)
1.400.000
2
Penutupan
500.000

8
Biaya kordinasi dan publikasi
1.000.000
3
Administrasi
500.000

9
Makan (125 org x 5 kali x @ Rp.5.000)
3.125.000
4
Sertifikat
1.250.000

10
Tropi dan kenang-kenangan
1.500.000
5
Properti
600.000

11
Booknote dan handout (130 paket x @15.000)
1.950.000
6
Snack
1.500.000

12
Dekorasi dan dokumentasi
2.000.000
JUMLAH                                 Rp     16.325.000

15.    Penutup

Demikian proposal ini sebagai pedoman pelaksanaan dan legalitas permohonan dana kegiatan Pelatihan Kemepimpinan Dasar (PKD) GP. Ansor. Atas perhatian dan kerja sama Bapak/Ibu, kami mengucapkan terimakasih.


PANITIA PELAKSANA

PELATIHAN KEMEPIMPINAN DASAR (PKD)

GP.ANSOR PAC SEDAN


            Mengetahui,

   Ketua GP. Ansor                                   Ketua,                                                Sekretaris

       PAC. Sedan




   MUHLISUDIN                NUR ADI PRIA PRATAMA                   AHMAD ROZIKIN

 

lembar narik sumbangan

proposal satu lembar

PIMPINAN ANAK CABANG

GERAKAN PEMUDA ANSOR
KECAMATAN SEDAN KABUPATEN REMBANG
Sekretariat: Jl. Sedan Pandangan KM 03 Desa Sidomulyo Kec. Sedan Kab. Rembang Hp: 085234816689

Nomor          : GP.A /Sedan/48/VI/2018                                                                         Sedan, 10 Juni 2018
Lamp            : 1 ( satu ) bendel
Perihal           : Permohonan
                       
                        Kepada Yth......................................
                        Di
                                                Tempat


Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Salam silatur rahim, semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan kepada kita untuk menjaga amanah ulama’ dalam menjunjung kesatuan dan persatuan bangsa menuju keutuhan NKRI jaya, amin.
Selanjutnya terkait dengan kaderisasi NU maka GP. Ansor Pimpinan Anak Cabang Sedan akan mengadakan Pelatihan Kepemepimpinan Dasar (PKD) pada:
Hari       : Rabu sd. Kamis, 11-12 Juni 2018
Waktu    :  08.00 - selesai
Tempat  : MTs. Karangasem, Jl. Sedan Kragan KM.03 Desa Karangasem Kec. Sedan Kab. Rembang
Kegiatan ini merupakan pelatihan komprehensif tentang kebangsaan dengan faham Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Peserta akan belajar citra diri agar bisa menganalisis sosialitas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dengan sudut pandang NU, demokrasi, HAM, paham anti liberalisme dan radikalisme. Untuk itu peserta juga akan dibekali ilmu komunikasi, kepemimpinan dan organisasi. Selain itu peserta akan diajak memetakan pembangunan nasional dan otonomi daerah. Dan pungkasnya, dalam rangka menunjang pilar Nahdlatut Tujjar,peserta akan berproyeksi dalam materi kewirausahaan.
Suksesnya kegiatan dimaksud membutuhkan anggaran sebesar Rp.16.325.000,- (enam belas juta tiga ratus dua puluh lima ribu rupiah), dengan perincian:
Oleh karena itu kami mohon kepada Bapak/Ibu/Sahabat berkenan memberikan bantuan dana seihlasnya untuk kegiatan tersebut.
Demikian permohonan ini kami ajukan dan atas terkabulnya permohonan ini kami mengucapkan terimakasih.
Wallahumuwaffiq ilaa aqwami thariq
Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

PANITIA PELAKSANA
PELATIHAN KEMEPIMPINAN DASAR (PKD)
GP.ANSOR PAC SEDAN

                     Mengetahui,
                  Ketua GP. Ansor                                    Ketua,                                   Sekretaris
                      PAC. Sedan



                  MUHLISUDIN                   NUR ADI PRIA PRATAMA        AHMAD ROZIKIN