Senin, 20 Juli 2020

25 Tahun Lalu



25 tahun lalu, saya masih bermimpi. Berharap mainanku menjadi kenyataan. Superhero, penyihir serba bisa, dan apapun. Semua terasa empuk sampai tak terbangunkan.
Saat itu, usiaku baru beranjak dari balita. Bapakku pun masih sering mengajakku jalan jalan, menuntunku dengan jari telunjuk kesana kemari. Kadang membonceng sepeda jengki. Aku berdiri di "gonce'an" belakang sambil memeluk erat pundak Bapakku. Bercanda ria sepanjang jalan. Kadang terbahak bahak saat roda jengki menjulang karena menabrak batu. 
Baru, saat Bapak membeli Vespa, ramai tangisku tak tertahan untuk segera menaikinya mengelilingi desa yang gemah ripah ijo keroyo royo ini. Iya, vespa biru tua itu menjadi vavoritku untuk mengelilingi jalan bebatuan. 
Saya masih suka bermain. Dakocan, kelereng, betengan, jambretan, uthek, gobak sodor, atau lainnya. Tanpa Smartphone, tanpa kamera, tanpa jaringan dan kuota. Dan saya bahagia, selayak anak lainnya yang tak tau dimana masa depannya. 
Saat tak ada bayangan masa depan, ternyata ada pejuang pejuang tangguh yang melihatku dan kawan kawan seusiaku dengan senyum dan harapan. Masa depan panjang seakan siap diternak untuk dibenihkan. Ada desas desus seperti gelora bung Karno yang akan mengguncang semeru. Bakal bakal pemuda yang harus diterpa di lingkungan dan kultur Gandrirojo agar menjadi generasi yang berakhlak karimah dan mampu menjawab tantangan zaman.
Berdirilah MA YSPIS pada tahun 1995. Masyaallah. 
Maju maju maju.
Sampai desaku ramai ilmu dan sugih dayoh
Dayoh wali santri
Dayoh malaikat rizki

Kiyai kiyai di madrasahku
KH. SAHLAN M. NUR,
KH. ROY MUSTAR
KH. MUHDI MAWARDI
KH. MUDARIS MAWARDI
KH. MUJAHID MAWARDI
KH. FAHRURROZI
Para mu'assis
Para guru
Dan orang tua kita
Ya Allah.
Alfatihah

Sabtu, 11 Juli 2020

Pandemi corona





Pandemi telah melelahkan pemikir bangsa. Harta bangsa benar benar terkuras untuk hal yang dinilai tak penting bila dibelanjakan kala itu. Hingga pemakar bingung, langkah mana yang perlu didalangkan lagi. Dari kebutuhan kesehatan, kegiatan keprotokoleran, sistem pendidikan, sampai jual beli jenazahpun tak terlewatkan. Isunya.
Tapi pejuang negeri belum berhenti. Rakyat Indonesia pun perlu menyatukan niat dan ikhtiar untuk kebaikan negeri tercinta. Pemakar biarlah, pengisu biarlah, pembohong biarlah. Tak peduli benar bohongnya pandemi ini. Kebaikan negeri ini jauh lebih penting, karena rakyat benar benar ingin terbebas dari pandemi.




Senin, 06 Juli 2020

Artikel fiksi "PERADABAN"




Peradaban adalah bukti kehebatan Tuhan

Mana ada yang tau masa lalu akan menjadi seperti ini. 30 tahun tahun silam kita bagaimana. Lalu sekarang seperti apa. Dulu ada apa, sekarang apa saja. Dulu tradisinya seperti apa sekarang budayanya bagaimana. Sang penaqdir, lagi lagi mempermainkan mahluknya. 

1989, tepat bulan ini (April), terhitung 31 tahun saya dilahirkan. Lahir dengan selamat meski tanpa bidan. Entah ada jahitan atau sekadar param kala itu. Bagaimana sakitnya, bagaimana perihnya, bagaimana pahitnya. Entahlah, emakku yang tau.

Mbah dukun dengan sibuknya kesana kemari, tangannya tidak pernah berhenti. Ada saja yang dikerjakan. Kendati bibirnya seperti kiyai agung di podium menjelaskan anjuran, perintah dan larangan. Tak henti. Lalu diakhiri jampi dan resep seperti doa pawang hujan. Komat kamit.
Kala itu, tangisanku tak dihiraukan. Saya pun, sebenarnya tak tau apa mauku. Cukup dibungkus dengan sarung bapak dan "tapeh" emak untuk "bedong". Dan sisanya disobek untuk popokku. Dielus kepalaku sambil menggerutu. Cup, cup. Saya terdiam seakan menemukan pusar emak yang dipotong.

Bapak tak tinggal diam, setelah mengadzan-iqomahi telingaku, beliau bergegas melakukan ritual pada "Bathur" janinku (ari ari). "Bathur"ku dilayakkan dalam pendil dan dikubur  di bawah "genuk" (tampungan air) dengan banyak harapan.

Belum cukup, diriku yang masih ranum diserahkan pada Pak Dhe
"Niki pak, bayi adi ne sampean" kata Bapak untuk tabarrukan doa oleh guru, sang kiyai atau sesepuh. 
"Jan, anakmu tak jenakke "Daim". Supoyo sok ben dadi apek wiwit sampe pungkas, solih selawase, jujur lan adil tanpo pamrih lirkadyo sucining wulan poso iki. Jur mahabbah karo njeng Nabi, tak kawiti "Ahmad". Dadi jabang bayi iki kasebut "Ahmad Daim" yo Jan" kata Pak Dhe Oyan
"Geh pak" , timpal Bapak

Saat itu, budaya kuno masih melekat. Dihari selapanku, Kegaduhan tetangga dengan jamuan seadanya meramaikan rumahku. Gelak tawa Bapak menemani mereka yang sedang membahas kemesraan alam kala itu. Tidak ada kepentingan,  tidak ada politik. Semua tamu berhidmah. Memanja dengan  keluarga kami. Tak ada yang bersolek. Tidak ada skincare dan tak ada gadget.

Lampu "stongkring" yang dipompa Bapak sore itu makin meredup. Waktunya pentas. Jedor dan suara kelik kelik Pak Dhe Syukur dan rombongannya benar benar membuat seisi rumah melotot dan tidak bisa tidur.

Suaranya khas. Cempreng tanpa filter dan mikropon. Entah dimana merdunya. Kadang Keras sampai Ototnya seakan keluar tenggorokan. Ini bukan jeritan.  Kadang juga fales. 

Mereka bersyair seperti berwirid. Meski duduk bersila, Kepala begoyang seperti bertahlil. Mata merem melek begitu menghayati. Mulut seperti petelur berkokok dipagi hari. Sesekali mereka menyeruput kopi atau jahe dan menyantap ketela didepannya. Lalu menabuh jedornya lebih keras lagi. 

Seperti jam istirahat sekolah. Jam 12 malam tepat suara gaduh "jedor" dihentikan. Ada "tidor", tabuhan "badug" di masjid jame' di desaku seperti wayang kulit "tibo goro goro suluk" tepat pukul 00.00. penabuh tidor berdiri tegak menabuh "bedug" seperti orang marah, hingga berkeringat deras bak suami yang bernafsu pada malam pertama di musim kemarau. Tak ada belas kasihan, satu "bedug" dipukuli masal oleh pemuda pemuda yang baru "games gamese" makan. Gaduhnya membuat seisi desa terbangun, hingga "Tidor" berhenti, sebagai tanda masuknya waktu memasak hidangan untuk sahur.

Dirumahku, tamuku masih bersantai, menghisap "leletan" tembakau seperti vape masa kini. Satu ruangan penuh asap tanpa charger. Pasukan "jedor" siap menabuh lagi. Dengan sarung atau celana kopral, kopyah agak miring, 3 kancing baju terbuka, iga dada kurusnya terpampang hitam lebam, pasukan itu melahap bulan hingga fajar.

Sahur pun tiba. Kerlap kerlip Pelita ditengah hidangan seperti sajian romantis sejoli romeo juliet. "Tampah" dan "nampan" seperti tatanan prasmanan tertata apik dan rapi ditutup daun pisang dan jati.

Genderang perang segera dimulai. Detik detik imsakiyah menunggu "bedug" ditabuh. Rumahku seakan lebih ramai daripada saat "jedoran". Bukan ramai syairan atau tabuh instrumen "jedor". Tapi gemuruh guyup makan bersama. Saling tuding saling tolong. Saling ejek saling cibir. Tak ada sendok tak ada "entong". Pun tak ada WC untuk berak.

Seisi rumah tak ada yang diam. Semua ambil peran. Tak terkecuali aku. Tangisku semakin kencang menandingi mak cibir, Tetanggaku yang bicaranya kemrecek dan keras. Ramainya rumahku melebihi debat legislatif di gedungnya. 

Itu, 31 tahun lalu. Hari ini? Paling tidak hari ini akan jadi keunikan untuk 30 tahun yang akan datang. Bersiaplah berkesan dihari ini.