Senin, 25 Februari 2019

SIAGA 1 BENCANA KORUPSI INDONESIA


Dari berbagai sudut pandang, korupsi merupakan kegiatan yang negatif. Semua warga pun sepakat mulai dengan deklarasi hingga Antipati  korupsi. Deal. Tak ada yang menyangkal.

Tapi sepertinya, daging satu ini terlalu enak hingga mendarah. Korupsi ditolak dimulut, diterima ditangan. Ini real. Terbukti lebih dari paruh kursi jabatan legislasi suatu daerah di Jawa Timur dicekal KPK. Entah ini dogma atau trendi. Tak korupsi, dibuli.

Pemilu, sebagai pintu awal dimulainya babak baru. Pertaruhan 5 tahun menjadi sasaran empuk mengundi nasib. Nasib sendiri, nasib warga atau nasib bangsa yang anti korupsi dan pro dengan rakyat. 
Begitu urgen pemilu ini, hingga regulasi yang disusun untuk memagari kegiatan ini mencapai ribuan pasal, mulai dari UU, PKPU, Perbawaslu, peraturan DKPP, dan peraturan lain yang bersinggungan seperti peraturan menteri keuangan tentang pagu belanja dan peraturan Bupati tentang kampanye. Semuanya rigit dan detail. 

Apalagi Pemilu 2019, kali pertama Indonesia menjalankan beberapa pemilihan jabatan politik menjadi satu. Dan tentu tak selancar slancar. Kerawanan pelanggaran pemilu kerap terjadi.

Sebagai langkah peduli pemilu bermartabat, Bawaslu Kabupaten Rembang menggelar pendidikan politik dan pengawasan partisipatif. 

Sedan, salah satunya. Kegiatan sosialisasi Pengawas partisipatif dilaksanakan di RM Karuna Joglo kragan pada hari minggu (14/2). Kegiatan ini diikuti oleh 50 peserta dari warga Rondan kampung NU, persatuan Guru Sedan, Komunitas Onthel, pemilih pemula, dan lain lain.

Kegiatan ini diisi dengan 3 materi yakni tentang sekilas pemilu 2019, metode pengawasan partisipatif, paparan peraturan pemilu rawan pelanggaran dan ditutup dengan diskusi. Sebagai pembuka, Ahmad Mustofa  memrolog, "bila Aspirasi tak sepenuhnya harapan, maka pemilu ini dirasa gagal. Karena calon terpilih diharapkan bisa aspiratif dan pro rakyat, bukan sebaliknya. Oleh karena itu, Untuk memilih dalam pemilu ini perlu mengenali calon terlebih dahulu. Jangan termakan hoax dan pencitraan". 

Kegiatan ini sangat interaktif. Semua peserta sangat antusias. Salah satu peserta sosialisasi, hasan menginterupsi, pelanggaran pemilu perlu segera ditindak. Tak pula dengan Shofa, salah satu komisioner Bawaslu itu menjelaskan beberapa peserta pemilu sengaja mencari celah peraturan untuk melangsungkan aksi praktisnya demi keuntungannya. Misalnya alat peraga kampanye dipaku dipohon, mereka menggantinya dengan tali. Money politik oleh timses, mereka menggantinya dengan timses tak tertulis. Penanganannya pun perlu dikaji lebih luwes.

Beda liang, pula lahatnya. Maskub, peserta sosialisasi tersebut tampaknya memiliki ide brilian. Komitmen untuk menjadikan indonesia lebih baik perlu ditegakkan. Tidak hanya dikalangan peserta pemilu, tapi juga warga. Ini perlu seimbang, kalau ini berhasil, bila ada yang mau memberi uang suap, akan kebingungan, karena sasaranya minim. Sebaliknya bila ada warga yang mengharap diberi suap, juga akan sia sia karena tidak ada yang mau memberikannya. Pas. Pasti pas. 

Prestasi demikian sangat diharapkan semua warga, kata Sofa komisioner bawaslu Rembang. Namun tak semudah mebalikkan tangan. Perlu kaderisasi mulai dari kita sendiri, dan disebarkan kepada keluarga sanak famili. 

Salah satu pengawas dikecamatan Sedan, ahlis membeberkan bahwa optimsme perlu dibangun mulai sejak dini. Jangan hanya menyalahkan atau debat kusir. Awali kebaikan mulai hari ini maka kelak kita akan menyambut pemilu bermartabat. 

Sabtu, 02 Februari 2019

Wisdom tai

Ketika mengetahui kelemahan suatu sistem, banyak orang yang mengejarnya hingga mereka merasa layak atau pantas tanpa memperbaiki kelemahannya sendiri.

Mungkin benar, lembaga manapun pasti pernah memanipulasi atau mementingkan kepentingan tertentu dan mengalahkan lainnya. Manusiawi. Tapi lebih dari itu, keputusan yang diambil merupakan projek yang perlu dipertanggungjawabkan selayak amal jariyah. Selamanya. 

Ketika berada di posisi yang diuntungkan, memang tidak akan kecewa. Tapi bila sebaliknya? Maka tidak ada keburukan lain yang lebih pantas didoakan atas sebuah kekecewaannya.  Ini lazim. Bahkan sebagian yang lain akan mengekspresikan kedalam tindakan arogan yang entah apa baiknya. 
Kurang bijak. Sepantasnya memahami diri sendiri dengan perspektif lain terlebih dahulu agar memahami persepsi sebuah keputusan. Maka memperbaiki diri dan membuktikan kelayakanmu merupakan tindakan yang lebih penting dari pada sekadar penyesalan, kekecewaan, ataupun arogansi lainnya. Tuhan tidak pernah tidur atau lalai. Waktu pun akan membuktikan kelayakanmu, dan alam akan menggantikan keberuntunganmu di kesempatan lain yang lebih besar. 

Pandangan satu persepsi perlu ditepis. Mana ada dunia selebar daun kelor? Pemikiranmu sama dengan pemikiran yang lainnya, sama dengan semua orang. Salah. Kaprah. Pemikiran satu orang belum tentu sama dengan yang lainnya. Apalagi kelompok tertentu, apalagi sistem tertentu. Belum lagi Pemikiran bersama, juga belum tentu sama dengan satu orang. “Keberagaman adalah anugerah, perlu disukuri”, Kata pepatah. Bau bulsyet. Syukur apanya. Memang benar, pepatah tidak ada yang salah. Ketika keberagaman itu memihak, tanpa sukur pun sudah bahagia. Bila dibalik, keberagamannya membuat tersudut, sulit untuk bersukur. Namun perlu diingat, kebiasaan sosial yang berlaku itu, pemikiran kolektif lebih benar dari pada personal. Teruji.

Hari itu, menurut persepsi pleno bersama, sebuah kebenaran telah diputuskan. Dan akan menjadi beban moral civitas sistem itu. Bila dirimu berkeinginan menjadi bagian suatu sistem, maka itu adalah misi. Tapi jangan lupa, bahwa menuntaskan misi keputusan sistem merupakan tanggungjawab. Bukan sekadar gaya hidup atau formalitas blaka. Keputusan dalam menyelesaikan kewajibanpun adalah legitimasi proses dalam menempuh tujuan sistem. Dibahas bersama, dipertimbangkan bersama, diputuskan bersama, dan semua bertanggungjawab atas hasilnya. 

Bila ternyata keputusan sebuah sistem yang diambil tidak memihakmu, mari “gerayang” dirimu sendiri. Whats happened? Persepsi “daun kelormu” perlu kau ikat di layang-layang yang menjulang tinggi di langit agar engkau tau sebarapa luas pertimbangan lainnya. Bila perlu wisdom, datanglah kepada orang yang lebih hak engkau datangi sebagai peneduh, bukan pengeruh, apalagi kepada kawan sekecewaan. Bila perlu penjelasan, datanglah kepada sistem itu untuk mendapatkan laporan detail. 

Semoga bermanfaat dan tidak menyinggung adanya. 


Suwun. Punten