Kamis, 14 Mei 2020

The Nyincing My Adventure


"Program bantuan ketahanan pangan GP Ansor Sedan untuk warga terdampak penyebaran Virus Corona"

Bergerak itu mudah. Siapa yang tidak bisa. Dari bayi sampai tua, dari rematik sampai strok, mudah. Tapi mental penggerak siapa yang punya. bukan sembarang orang. 

Bung Karno, Wahid Hasyim, Jend. Sudirman, dan masih banyak lagi. Tapi tak lebih banyak dengan pasukan yang digerakkan. Ambyar seantero nusantara. 

Mereka seakan "punjer" sejarah pergerakan. Memang terasa sombong bila kami ingin seperti mereka. Tapi setidaknya kami ingin belajar mencontoh mereka. Bagaimana mereka melangkah. Bagaimana mereka menyikapi. Bagaimana mereka setegar itu. Setitik demi senila saja cukup, agar kami lanjutkan besok dan lusa.
 
Bersama itu, kami mulai berhidmah secara struktural di organisasi kami. Mengambil khikmah dari pejuang dilingkungan sekitar.

Dari itu, kami belajar agar bisa berguna untuk kemaslahatan umat. Dan itu luar biasa sulit. Butuh ketekunan. Butuh keihlasan. Butuh kesabaran. Butuh pengorbanan. Siap membagi waktu. Siap dicela. Siap dikritisi tanpa partisipasi. 

Taksiran yang kami rencanakan matang matang, sering dipandang sesudut mata. Langkah jauh yang kami tempuh sering di sangka hanya seujung pertigaan. Mindset positif yang kami bangun sedikit demi sedikit sering digunjing. Keseriusan yang kami garap sebagai dasar pemikiran sering dijadikan bahan canda. 

Tapi biarlah. Memang ini belajar. Belajar menjadi penggerak. Butuh rintangan agar kuat bak gunung pegat. Kalau halus mulus, namanya bukan perjuangan tapi iklan mak urut. 


Selasa, 12 Mei 2020

Lemah Jiwa



Lemah jiwa
12 Mei 2020

Dalam raga yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Sebenarnya kata mutiara ini perlu direvisi dan ditambah klausa lagi. Saya berpendapat "dengan jiwa yang sehat, bersosial menjadi bebas dan raga pasti sehat". Sepertinya lebih pas. Ini karena, psiko menjadi kausa prima organ tubuh apapun. Stres misalnya, akan menumbuhkan penyakit penyerta pada organ tubuh. Ada jantung sampai lambung, ada bisul sampai jerawat dan masih banyak lagi. Yakinilah, gaya pikiran, dan cara pandang kejiwaan menentukan arah kesehatan organ tubuh manusia. 

Pun, islam juga bersikeras dengan momentum ini. "Qalbu", begitu kiyai memaparkannya. Bila suatu tubuh, "qalbu"nya baik, maka tubuhnya juga baik. Dan sebaliknya. 

Selain itu hidup bermasyarakat juga menjadi tendensi yang cukup kuat dalam menentukan kejiwaan seseorang.

Tapi ini tidak bisa seremeh itu. Sehatnya raga tentu dapat dikira. Sehatnya jiwa hanya diri dan tuhan yang tahu. Tapi mudah saja, berkebiasaan unggul, bersosial dengan baik, berpikiran positif, bersyukur atas semua kejadian, cukup itu dulu.
Tapi sepertinya, hal tersebut mudah diucapkan, dan berat dilakukan. 

Menjadi diri yang tabah dan  puas atas nikmat yang diberikan tuhan hari ini benar-benar sulit. Seperti tantangan yang luar biasa. 

Ini belum musibah atau cobaan. 

Jerawat misalnya. Duh, malunya. Jadi bahan gunjingan. Dari mikir siapa sampai dipikir siapa.

Baru malu, bagaimana dengan Pilek. kerja tak enak, ngedate tak enak, tampil tak enak. Mau apapun canggung semua. "Srag srug", merananya. 

Baru begitu, bayangkan sariawan. Mau ngomong susah, mau makan perih. Mau minum perih. Ah, hilang selera. 

Apanya, belum sakit gigi. Jangankan dipegang, baru mendengar suara keras saja sudah nyut nyut. Apalagi pas tidak sengaja kena makanan, bikin ngilu. Sampai menetes eluh mata.

Ada rematik juga. Sendi terasa linu. Mau berdiri repot, jalan cepat lelah, pas rebahan seperti dipukuli orang sekampung.

Ada Demam, semua jadi letih, lunglai, badmood.
Atau juga lemah syahwat. Bayangkan saja. "Plek plek, udah. Sisanya main sendiri. (Sensored by 18+)

Ada Sesak nafas. Air sebagai sumber kehidupan saja, lebih penting nafas. Ini sesaknya bukan main. Nafasnya seakan tinggal hitungan jari. Serasa mau naza'. Mau kerja? Kerja apanya, tak berdaya dibuatnya. 

Ada udun atau bisul pada dubur dan ambeyen. Mau jalan saja seperti kena osteoporosis leter o. Ini belum ketika mau buang air besar. Apalagi yang keluar pas padat. Waw. Seakan Nyesel makan. 

Ada jantung, liver, diabetes, kanket,  dan masih banyak lagi

Semua punya cerita keluhan. 

Hari ini, bila kebetulan kita sehat, maka agungkan nama tuhanmu dan jagalah kebesaran nikmat tuhanmu ini

Namun bila engkau diberi anugerah sakit, bersyukurlah, ternyata ada keluhan lain yang lebih besar yang tidak engkau derita.

Dan bila kita mendapati saudara kita yang kurang beruntung, mari bantu jiwa dan raga, lalu doakan, semoga tuhan menyayanginya dan menjauhkan kesialannya dari kehidupan kita