ANEKA SITUASI PELIBAT MENYIMAK
MAKALAH
![]() |
Oleh:
KELOMPOK V
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
UNIVERSITAS PGRI RONGGOLAWE TUBAN
ANGAKTAN 2010-C

BAB III
LEMBAR PENGESAHAN
Dosen mata kuliah “Menyimak Sebagai Keterampilan Berbahasa” pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas PGRI Ronggolawe mengesahkan makalah:
kelompok : Lima
disusun oleh : 1. Ahmad Daim
2. Muhammad Fathoni
3. M. Nur kholis
4. Maftukhah
5. Nurul naimah
6. Rista aggriani
7. Ratnasari
8. Uswatun Hasanah
tempat : Jalan Raya Manunggal 62, Telp: 0356-322233. Tuban
Hari/Tanggal : Senin, 10 Januari 2011
Judul : “Aneka Situasi Pelibat Menyimak”
Tuban, 10 Januari 2011
Dosen,
Drs. I Wayan Letreng, M.Pd.
KATA MUTIARA
1. Orang hebat adalah orang yang bersedia dengan ikhlas mempersilahkan musuhnya saat bersama-sama ngantre untuk masuk terlebih dahulu ke toilet sementara dia sudah lebih awal menunggu antrian.
2. Salah seorang anggota kelompok kami berkata: “Saya lebih memilih sombong dari pada rendah diri, karena kesombongan membuat saya harus menjadi lebih baik dari pada yang lain dan akhirnya pada kenyataannya memang saya yang terbaik karena usaha saya“.
3. Lebih baik memakan ketela tapi kenyataan dari pada memakan keju tapi dalam mimpi.
4. Orang nista adalah orang yang bangga terhadap keberhasilannya meskipun hanya sekedar menengadahkan tangan dan orang mulia adalah orang yang selalu mencari keberhasilan denga genggaman tangannya sendiri.
5. Jika saya dipuji maka saya harus mencari kesalahan saya.
6. Dunia ini keras. Menangis dan melamun membuat kita lembek dan tidak akan mengubah suatu apapun. Berfikirlah dan bergerak aktif! Maka lihat perubahan di hari esok!
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Ilahi yang maha suci, karna rahmat dan hidayahNya, penyusunan makalah ini bisa diselesaikan. Untaian sholawat dan salampun tidak lupa dituturkan tertuju kepada junjungan mahluk sejagad, Baginda Nabi Muhammad SAW. yang berani berkorban menuntun umat, sehingga kita masih bisa merasakan nuansa kedamaian, ketentraman dan kesejahteraan.
Sebelum penyusunan karya ini, penulis ingin menyampaikan 4 hal, yaitu:
1. Permohonan terimakasih kepada seluruh pihak yang terkait dalam penyusunan karya ini, diantaranya : teman, pembimbing dan lain-lain. Tanpa partisipasi dari mereka, maka penyusunan karya ini tidaklah mungkin bisa disajikan secara optimal.
2. Permohonan maaf jika terdapat kesalahan yang kurang berkenan di hati pembaca, karena hal itu semata hanya karena kebodohan penulis yang masih dalam taraf pembelajaran.
3. Permohonan kritik yang konstruktif, karena penulis yakin, dalam penyajian makalah ini, masih jauh dari kesempurnaan.
4. Penulis berharap, semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.
Semoga Allah Yang Maha Kuasa senantiasa meridoi setiap perjuangan luhur kita semua.
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
LEMBAR PENGESAHAN ………………………………………………….. iii
KATA MUTIARA …………………………………………………………… iv
KATA PENGANTAR ……………………………………………………….. v
DAFTAR ISI …………………………………………………………………. vi
BAB I PENDAHULUAN ………………………………………………… 1
1.1. Latar Belakang Masalah …………………..………………... 1
1.2. Rumusan Masalah ……………………….…………………. 2
1.3. Tujuan …………………………………….………………….. 3
BAB II PEMBAHASAN ………………………………………………….. 4
2.1. Menyimak dalam kehidupan dan kurikulum ……………….. 4
2.2. Petunjuk, keterangan, pengumuman ………………………… 11
2.3. Percakapan dan diskusi ……………………………………… 16
2.4. Laporan ……………………………………………………… 18
2.5. Radio, televise, rekaman dan telepon ……………………….. 20
2.6. Aneka alasan menyimak ……………………………………. 23
BAB III PENUTUP ………………………………………………………… 28
3.1. Kesimpulan …………………………………………………. 28
3.2. Saran ………………………………………………………... 29
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………... 30
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Kegiatan membaca dan menyimak adalah dua kegiatan yang sangat penting dalam kehidupan manusia khususnya dalam kehidupan manusia berpendidikan. Dalam kenyataannya, manusia dituntut untuk bisa memahami segala sesuatu yang berkaitan dengannya secara reseptif dan atentif supaya dia dapat bertindak dengan proporsional sesuai dengan situasi dan kondisi. Inilah indikasi ketercapaian dari membaca dan menyimak.
Hasil kajian pustaka, kami menyimpulkan bahwa antara menyimak dan membaca adalah dua hal yang saling berhubungan. Seperti pada bidang pendidikan, keterampilan menyimak merupakan faktor yang penting bagi keberhasilan seseorang dalam belajar membaca secara efektif.
Namun sesuai dengan mata kuliah kami, maka kajian kali ini akan difokuskan pada keterampilan menyimak, bukan pada keterampilan membaca.
Semakin lama, perhatian pada pengajaran menyimak sebagai salah satu sarana penting dalam penerimaan komunikasi semakin berkembang. Hal ini dapat dilihat pada sejumlah literatur bahwa kepentingan dan kegunaan kegiatan menyimak sungguh diperlukan dalam sagala aspek.
Pendidikan adalah salah satu aspek tersebut. Akan ada hal negatif yang kian tidak diinginkan, jika peserta didik tidak mampu menguasai keterampilan menyimak. Peluang ketercapaian kompetensi dasar pun akan semakin sulit, dan akhirnya peserta didik akan akan mengalami regresi prestasi. menyikapi tuntutan tersebut, peserta didik diharapkan mampu menyerap informasi dari berbagai aktifitas-aktifitas yang melibatkan kagiatan menyimak.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikumukakan diatas, maka masalah yang akan kami bahas adalah kedudukan menyimak dalam kurikulum sekolah dan beberapa situasi atau aktifitas yang ikut melibatkan kegiatan menyimak, baik di dalam sekolah maupun di luar sekolah.
Adapun situasi atau aktifitas yang ikut melibatkan kegiatan menyimak tersebut adalah:
1. Petunjuk, keterangan, pengumuman;
2. Percakapan dan diskusi;
3. Laporan;
4. Radio, televise, rekaman dan telepon;
5. Aneka alasan menyimak.
1.3. Tujuan
Makalah ini disusun berdasarkan sumber-sumber yang jelas dan akurat, selain untuk memenuhi nilai tugas dari Bapak Drs. I Wayan Letreng, M.Pd., selaku Dosen Mata Kuliah “Menyimak sebagai Keterampilan Berbahasa” juga dengan tujuan untuk menanamkan pengetahuan tentang keterampilan menyimak dan beberapa aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari baik di dalam sekolah ataupun di luar sekolah lewat media tekstual sebagai bentuk upaya untuk meningkatkan efektifitas dan responsibilitas, khususnya pada peserta didik dan manusia pada umumnya.
BAB II
PEMBAHASAN
ANEKA SITUASI PELIBAT MENYIMAK
2.1. Menyimak dalam Kehidupan dan Kurikulum
Diakui atau tidak, kegiatan menyimak adalah suatu kegiatan yang sangat penting dalam segala aspek, baik itu dalam kurikulum sekolah atau bahkan pada kehidupan sehari-hari.
Kalau dalam tata kurikulum sekolah, hal ini cukup jelas bahwa menyimak adalah kebutuhan primer yang tidak bisa dinegoisasi. Misalnya peserta didik yang dituntut untuk bisa memecahkan masalah setelah penyampaian materi dari gurunya. Untuk itu, siswa membutuhkan pemahaman yaitu dengan kegiatan menyimak atau membaca.
Sedangkan dalam kehidupan sehari-hari, menyimak juga merupakan hal penting. Modernisasi menuntut seseorang untuk senantiasa sigap atau akselerasi dalam bertindak atas informasi yang diterimanya supaya mereka bisa bertahan hidup di tengah jaman yang semakin membabi buta ini. Tentu dalam menerima informasi tersebut seseorang membutuhkan pemahaman yaitu dengan menyimak atau membaca.
Penelitian mengenai menyimak dalam kehidupan atau dalam kurikulum sekolah dapat dikatakan masih sangat langka. Baru pada tahun 1929, Paul T. Rankin dari Detroit Public Shcools, menyelesaikan sebuah survey mengenai penggunaan waktu dalam keempat keterampilan berbahasa. Beliau menelaah komunikasi-komunikasi pribadi 68 orang dari berbagai pekerjaan dan jabatan untuk menentukan presentasi waktu yang mereka pergunakan untuk berbicara, membaca, menulis dan menyimak. Selama kira-kira dua bulan ke-68 orang tersebut diawasi dan diteliti dalam bidang kegiatan-kegiatan tadi setiap 15 menit dari hari-hari jaga, hari-hari bangun mereka. Paul T. Rankin menemui bahwa mereka mempergunakan waktu berkomunikasi mereka sebagai berikut:
Menulis 9 %
Membaca 16%
Berbicara 30%
Menyimak 45%
Dalam kenyataan praktek, survey menyatakan bahwa pada umumnya kita menggunakan waktu untuk menyimak hampir tiga kali sebanyak waktu untuk membaca (sarat penting lannya untuk menerima informasi), tetapi anehnya sedikit sekali perhatian diberikan untuk melatih orang menyimak. Pada sekolah-sekolah di Detroit, Rankin menemukan bahwa dalam penekanan pengajaran di kelas:
Membaca memperoleh 52%, sedangkan
Menyimak hanya 8% (Salisbury, 1955 :229).
Agar kita memperoleh gambaran yang jelas dan menyeluruh mengenai hal tersebut, perhatikan Gambar I di bawah ini.
![]() |
Selain Paul T. Rankin, Prof James I. Brown, dari University of Minnesota. Selama tiga tahun juga mengadakan penelitian mengenai “Mengapa beberapa orang dapat menyimak serta memahami apa yang mereka dengar, sedangkan sebanyak 70 % dari kata lisan atau ucapan itu hanyalah mendesing saja melalui telinga yang lainnya tanpa berhenti?”
Bagi orang yang tidak beranggapan bahwa menyimak merupakan suatu faktor penting dalam pendidikan, dimohon merenungkan dalam-dalam bagaimana dia pertama sekali bagaimana dia belajar berbicara dan bertingkah laku. Atau tanyakanlah kepada seorang professor berapa banyak maha siswanya yang mendengarkan apa yang dikuliahkannya. Prof. Brown tersenyum dan menyeringai “Yah, begitulah; dan kita berharap agar beberapa penelitian diadakan lebih baik lagi mengenai menyimak.
Banyak orang, termasuk pembaca yang sangat baik, memahami apa yang diterjemahkan oleh mata mereka dari halaman cetak. Tetapi meskipun mendengar normal, banyak dari mereka yang tidak dapat melaksanakan tugas yang dikaji dalam penelitian Prof. Brown.
Bersama rekannya yaitu Prof. Roberto Carlsen dari University of Colorado – Prof. Brown pada tahun 1951 menyelesaikan suatu tes tentang pemahaman menyimak yang akan dipergunakan di seluruh Amerika Serikat. Pada musim gugur tahun itu semua mahasiswa baru yang memasuki University of Minnesota akan mengikuti tes itu untuk menentuka kebutuhan apa yang diperlukan dalam pengajaran keterampilan menyimak. Sebelum merencanakan tes keterampilan menyimak itu, Prof. Brown harus terlebih dahulu mengetahui kesalahan-kesalahan yang yang dibuat oleh penyimak jelak (poor listeners). Beliau memberikan serangkaian kuliah percobaan kepada para mahasiswa dan kemudian membuat ujian tulis untuk memeriksa tingkat atau taraf pemahaman mereka. Maka ditemuilah bahwa yang tergolong penyimak jelek (poor listeners) adalah:
a. Mereka yang terlalu banyak mencatat secara terperinci. Mereka terlalu terlibat dalam seluk beluk mekanisme keseluruhan kerangka kuliah sehingga lupa akan bagian-bagiannya. Atau, Menyadari dari pengalaman bahwa mereka penyimak yang jelek, maka mereka membuat suatu “show” pembuatan catatan untuk menyenangkan hati mereka.
b. Mereka yang tidak sanggup mengatasi gangguan-gangguan (noise). Dalam sebuah pembelajaran tentu tidak semudah membalikkan tangan. Di dalamnya terdapat banyak gangguan yang kiranya dapat mempengaruhi jalannya pembelajaran. seperti bunyi gemuruh, berisik, aksi teman yang jail atau yang lain. poor listener kesulitan dalam mengatasi gangguan tersebut.
c. Mereka yang berjiwa argumentatif. Begitu mereka mendengar seorang pembicara mengemukakan suatu teori, baik teori yang dibuktikan dengan sebuah permisalan/fakta atau tidak membuktikan teori tersebut, justru para poor listener tidak mendengarnya, mereka malah sibuk mencari argumentasi untuk teori yang dikaji oleh pembicara. Semua perhatian mereka masih terpusat pada pernyataan asli tadi dan tidak memperhatikan pengembangan-pengembangan, lanjutan atau penjelasan dari teori tersebut.
d. Mereka yang berpura-pura menarik perhatian. Misalnya duduk dengan tenang dan mengangguk-angguk selama kuliah serta terus menatap wajah sang Dosen. Hal inilah yang sering terjadi di kelas kita. Mayoritas dari mahasiswa tersebut ingin membohongi dosen bahwa mereka telah memahami masalah yang dikaji supaya tidak diberi questionering (pertanyaan) atau supaya mata kuliah tersebut segera selesai dan mereka bisa cepat-cepat keluar ruangan, padahal dibalik itu semua, mayoritas dari mereka adalah poor listener.
e. Mereka yang kurang menaruh perhatian pada materi yang dibicarakan sang Dosen itu. Kurangnya minat dalam mendalami materi memang menjadi suatu kendala dalam prose menyimak. Apalagi terkadang adapula mahasiswa yang tidak suka dengan penyaji.
Kita mengetahui bahwa menyimak, sebagai suatu aspek keterampilan berbahasa, dapat dikembangkan dengan:
a. latihan terpimpin,
b. menjauhkan factor-faktor penyebab penyimak yang jelek,
c. meningkatkan atau memperkaya kosa kata, dan
d. meningkatkan pengenalan kata-kata yang lebih baik dengan telinga (seperti juga halnya dengan mata).
Dari penelitian yang telah dilakukannya, Prof. Brown menarik kesimpulan bahwa 70% dari jam-jam bangun orang dewasa dipergunakan buat berkomunikasi, baik secara santai maupun serius, dan 45% dari waktu tersebut dipergunakan untuk menyimak. Kebanyakan dari apa yang kita pelajari, diserap dengan menyimak. Dan kebiasaan-kebiasaan menyimak yang jelek jelas berpengaruh pada keberhasilan pencapaian tujuan pada pengejaan (Salisbury, 1955 : 193).
Demikianlah penelitian yang telah dilakukan oleh Prof. Brown mengenai praktek menyimak dalam kehidupan dan juga dalam kurikulum sekolah. Suatu penelitian yang sangat berharga dalam bidang keterampilan menyimak yang sampai kini masih langka. Agar kita memperoleh gambaran umum mengenai pembicaraan di atas tadi, perhatikanlah baik-baik Gambar II berikut ini.
Tes pemahaman menyimak ciptaan Prof. Brown itu pada dasarnya tertuju pada ingatan seseorang pada faktor-faktor sederhana, kemampuannya menghubungkan serangkaian fakta serta memahami pesan yang dikandungnya, pengenalan kata-kata dengan bunyi (disamping penglihatan dan konteks) dari suatu pesan lisan, baik dalam bagian-bagian kecil maupun tema. Prof. Brown menyatakan bahwa seseorang termasuk pembaca yang jelek kalau dia memahami kurang dari 40 % dari yang dibacanya; pembaca yang sedang 60%, dan pembaca yang baik sekali 90% (Duhlap 1951, via Salisbury, 1955 : 193).
Semua cerita di atas berasal dari Amerika serikat. Dan, bagaimana keadaannya di tanah air kita ini? Semoga mata hati kita lebih terbuka kearah kemajuan.
2.2. Petunjuk, Keterangan dan Pengumuman
Dari keterangan diatas, dapat disimpulkan bahwa kegiatan menyimak memang sangat penting, namun kurang adanya penekanan dalam mempelajarinya dan selanjutnya melatihnya secara intensif (Paul T. Rankin). Padahal kita tau manfaat yang dapat diperoleh siswa jika mereka menguasai atau setidaknya terbiasa melakukan kegiatan memahami melalui menyimak.
Beberapa contoh hal yang seharusnya dipahami dengan menyimak adalah “petunjuk, keterangan dan pengumuman”. Contoh kasusnya adalah sebagai berikut:
a. Setelah diperiksa, seorang pasien menyimak dengan seksama petunjuk dari dokter.
b. Dengan antusias, para mahasiswa Progam Study Bahasa dan Sastra Indonesia angkatan 2010 menyimak keterangan dari Bapak Drs. I Wayan Letreng, M.Pd. tentang Mata kuliah “Menyimak”.
c. Ujian Nasional telah usai, kini tiba saatnya para siswa yang didampingi orang tuanya menyimak pengumuman kelulusannya.
Menurut Kamus Besar Indonesia (1996), pengertian ketiga istilah ini adalah sebagai berikut:
a. Petunjuk adalah suatu penjelasan tentang sesuatu yang harus diikuti untuk dapat mengerjakan sesuatu atau sebagai salah satu bahan pertimbangan.
b. Keterangan adalah uraian untuk memperjelas sesuatu sehingga seseorang dapat mendapat pemahaman yang lebih optimal dari informasi tersebut.
c. Pengumuman adalah: adalah suatu pemberitahuan baik melalui lisan atau tulisan.
Dalam kenyataannya, menyimak adalah faktor yang dominan dalam memahami petunjuk, keterangan dan pengumuman. Hal ini lebih dicenderungkan untuk peserta yang masih dalam kategori usia pendidikan.
Sebagai usaha untuk memupuk serta mengembangkan kemampuan peserta didik dalam menyimak secara efektif, sebenarnya guru tidak perlu menyediakan waktu khusus ataupun menambah program baru pada sekolah, seperti program menyimak intensif. Tugas guru adalah melihat serta memeriksa, apakah siswa perlu dibantu dalam mengembangkan keefektifan mereka dalam segala kegiatan menyimak, baik pada kegiatan formal ataupun non-formal, ekstrakurikuler ataupun intrakurikuler.
Seperti kasus berikut ini. Pada tahun-tahun permulaan sekolah, anak-anak mendapat kesempatan untuk menyimak berbagai petunjuk, keterangan dan pengumuman. Maka dari itu, mereka harus mendapatkan input berupa pemahaman yang cukup, yang nantinya berguna untuk proses pembelajaran di kemudian hari. Untuk itu, mereka harus mempelajari kebiasaan menjauhkan segala bahan atau alat yang mengganggu perhatian mereka dan selanjutnya dipraktikkan, belajar memanfaat kedua telinga, meningkatkan kesadaran untuk berkeinginan menyimak pembicara samapai selesai, dan mencoba memahami pembicara mulai dari awal hingga selesai.
Kami (saya) setuju dengan Prof. Dr. Henri Guntur Tarigan tentang system repetisi yang tidak sesuai pada proses pembelajaran. Seorang guru dinilai tidak baik, jika membiasakan mengulang-ulangi petunjuk dan keterangannya, karena hal ini akan menimbulkan anggapan oleh siswa bahwa pada kesempatan lain guru tersebut akan mengulangi penjelasannya kembali sampai dua atau bahkan lebih. Akibatnya siswa akan cenderung tidak mendengarkan secara konsekuen pada saat pertama kali diterangkan. Secara tidak sadar, sebenarnya guru tersebut telah mengajarkan kepada siswa untuk meremehkan atau tidak menaruh perhatian terhadap pelajaran yang diberikannya. Suatu hal yang tidak baik, bukan?
Untuk menjamin berlangsungnya kegiatan menyimak yang baik, efektif dan atentif maka guru seharusnya terlebih dahulu yakin terhadap sesuatu yang hendak dikatakannya. Seorang guru harus menunggu sampai dia mendapat perhatian yang baik dari siswa. Setelah itu, dia memulai berbicara dengan bahasa yang sederhana, kalimat-kalimat atau frase-frase yang singkat, tegas, tepat, teratur dan jelas dalam memberikan petunjuk serta menggunakan alat peraga melalui gerak-gerik, demonstrasi atau gambar-gambar yang dapat memperjelas maksud dan tujuannya, sehingga para sisw lebih mudah untuk menyimak terhadap penjelasan tersebut.
Tidak cukup hanya itu, selain guru sebagai subjek, maka siswa sebagai objek atau sasaranpun juga seharusnya ikut mendukung proses menyimak. Salah satunya adalah dengan siswa belajar menaruh perhatian optimal sejak awal sampai akhir untuk menambah keyakinan bahwa mereka telah memahami informasi yang telah disampaikan pembicara.
Jenis siswa yang heterogen dalam satu kelas membuat kemungkinan besar sebagian siswa mampu menyimak dan sebagian lagi kurang mampu dalam menyimak. Jika hal ini terjadi, maka siswa diharapkan bertanggung jawab atau berkewajiban untuk mengemukakan pertanyaan-pertanyaan yang seyogianya dengan pertanyaan tersebut siswa mendapat pemahaman yang cukup terhadap informasi yang diinginkan.
Sesuai dengan pepatah jawa “tambah umur tambah akale”, maka hal ini juga berlaku untuk proses menyimak. Jenjang kelas yang semakin meningkat yang dialami semua siswa akan membuat informasi yang harus telaah menjadi semakin panjang, berbelit-belit dan lebih rumit. Namun jika siswa sudah terbiasa menyimak dari kelas yang lebih rendah, sudah barang tentu mereka mampu menanggulangi tuntutan yang lebih besar. Apalagi secara psikologi, dengan bertambahnya usia, maka hal ini juga berpengaruh pada kedewasaan tertutama pada pemikiran mereka. Pemikiran membuat mereka harus bekerja lebih optimal supaya mampu mendapat input dari menyimak.
Dari sini disimpulkan bahwa untuk mengahadapi tantangan pemahaman yang semakin meningkat, ketrampilan menyimak pun seharusnya juga meningkat sejalan dengan bertambahnya kedewasaan.
Salah seorang anggota kelompok kami member pendapat bahwa “menyimak bukanlah ilmu yang harus dipelajari secara teoritis, namun lebih cenderung kepada keterampilan yang harus dilatih secara berkesinambungan dan tidak akan bisa dikuasai sak gledakan (seketika)”. Mengamati hal ini, kegiatan menyimak akan berhasil dikuasai jika guru terus menerus membantu mereka dalam memperoleh ketrampilan-ketrampilan tersebut, seperti memperhatikan urutan ide-ide beserta hubungannya antara satu dengan yang lainnya, pernyataan-pernyataan yang bertentangan atau tidak menunjang dan prasangka-prasangka.
Kaitannya dengan menyimak pengumuman, untuk anak yang jenjangnya semakin tinggi seharusnya memikul dan menerima tanggung jawab yang lebih berat pula, yakni untuk membuat keterangan-keterangan identik yang jelas dan eksplisit dalam memberikan petunjuk kepada teman-teman sekelasnya. Di samping itu juga, mereka hendaknya belajar bagaimana caranya menimbulkan perhatian yang baik dan komprehensif di pihak penyimak atau teman-temannya (Dawson [et all], 1963 : 155).
Demikianlah telah kita perbincangkan tiga jenis situasi atau aktivitas yang melibatkan keterampilan menyimak secara atentif. Berhasil atau tidaknya, dipahami atau tidaknya petunjuk, keterangan atau pengumuman yang disampaikan, sangat bergantung pada taraf penyimakan para penyimak, bergantung pada perhatian yang mereka berikan: penuh perhatian atau hanya sekilas saja, atentif atau sekedar reseptif saja, tentu saja tidak bisa diabaikan kesederhanaan, ketepatan, kepadatan, kemudahan serta keterpahaman bahan yang disajikan secara lisan itu.
2.3. Percakapan dan Diskusi
Percakapan atau konversasi merupakan aktifitas yang paling umum di antara tipe-tipe komunikasi lisan dan oleh karena itu jelas menuntut banyak kegiatan menyimak. Akan tetapi, oleh karena biasanya kelompok- kelompok konversasi ini kecil dan minat-minat pun langsung bersifat pribadi atau perseorangan, maka kegiatan menyimak timbul dengan mudah, tanpa paksaan. Namun demikian, sekolah perlu mengadakan serta mempersiapkan bimbingan, sebab jangan kita lupakan bahwa kebanyakan anak-anak memperlukan bantuan dalam menanti giliran mereka dan memperlihatkan kesopan santunan sebaik mereka menyimak serta menanggapi ucapan-ucapan rekan-rekan mereka. Dalam berbicara, mereka perlu diajar untuk membantu para penyimak mereka sendiri dengan cara memilih suatu topic pembicaraan yang menarik bagi para rekan mereka, merasa bertanggung jawab penuh untuk turut mengambil bagian dan menarik serta ke dalamnya seorang pendatang baru atau anak yang sangat pemalu, menghindari dari atau mengubah suatu subyek terlalu bersifat pribadi ataupun yang dapat memalukan seorang anggota kelompok itu. Pengetahuan- pengetahuan yang sedemikian rupa timbul dan diperoleh dalam kaitannya dengan suatu masa, memperlihatkan serta menceritakan makna yang sebenarnya, dengan konversasi para siswa selama kegiatan-kegiatan kelompok kecil dan komite (atau panitia), serta pembicaraan informal, pembicaraan tidak resmi pada waktu istirahat. Bimbingan sang guru biasanya bersifat incidental saja, dan kerap kali pula bersifat individual, sambil secara rendah hati dia mengomentari masalah-masalah kesopansantunan dan keefektifan.
Disamping kegiatan yang telah disebut tadi, maka di sekolah dan di luar sekolah, anak-anak sering sekali ikut serta, turut berpartisipasi dalam diskusi. Berbeda dengan konversasi yang mungkin melantur ke sana ke mari, maka diskusi ini berpusat pada satu topic tunggal dan haruslah maju terus dalam suatu cara yang teratur menuju ke suatu titik keputusan. Apabila seorang siswa merupakan bagian dari suatu kelompok diskusi, maka dia hendaknya merasa bertanggung jawab untuk mengetahui topic apa yang sedang dipertimbangkan, mengikuti urutan pikiran, sipa sedia memberikan sumbangan tepat pada waktunya serta berfaedah, menyimak secara efaluatif terhadap apa yang dikemukakan oleh rekan-rekannya.
Dalam segala bidang kurikuler dan dalam semua pelajaran sehari-hari, setiap anak berganti-ganti berbicara dan menyimak sebaik kelompoknya membuat rencana-rencana yang ditemui, menyarankan pemecahan, penyelesaian, jalan keluar, serta melaporkan kemajuan yang diperoleh. Dia akan turut serta dalam kelompoknya mendiskusikan gambar-gambar yang terdapat dalam buku pegangan dan buku lainnya, ikut serta dalam kegiatan-kegiatan yang terlibat dalam suatu studi social atau kesatuan ilmu, darmawisata kelas yang harus dilaksanakan, masalah lapangan permainan yang menyangkut keselamatan anak-anak yang lebih muda, dan pertanyaan-pertanyaan serta masalah-masalah bantuan bagi penduduk yang tertimpa bencana alam dan lain-lain.
Kalau kita menginginkan anak-anak kita menjadi warga Negara yang bertanggung jawab di kelak kemudian hari, maka adalah merupakan tugas dan tanggung jawab para pendidik serta orangtua untuk memberi bimbingan kepada mereka dalam mengikuti kegiatan-kegiatan konversasi dan diskusi tersebut. Anak-anak kita harus mengetahui hak-hak serta kewajiban-kewajiban mereka sebagai anggota, baik sebagai pembicara maupun sebagai penyimak. Kepada mereka harus ditanamkan rasa saling menghormati: “siapa yang ingin dihargai oleh orang lain haruslah pula menghargai orang lain; kalau kita ingin agar kita disimak orang lain, maka kita pun harus berusaha menyimak orang lain secara atentif”.
Percakapan dan diskusi menempa kita menjadi anggota masyarakat yang aktif, yang reseptif, yang responsive, yang atentif, yang terbuka menerima pendapat dan pendirian orang lain, bahkan mereka. Percakapan dan diskusi mendidik kita menjadi warga masyarakat social yang berdisiplin, yang mengetahui apa yang menjadi hak dan apa pula yang menjadi tanggung jawab dan kewajiban kita tahu persis bila masanya “memberi” dan bila pula saatnya “menerima”, kapan saatnya berbicara dan kapan pula saatnya menyimak.
2.4. Laporan
Bagi anak-anak yang menduduki kelas-kelas yang lebih tinggi, laporan merupakan suatu tugas dan tanggung jawab penting. Bahkan anak taman kanak-kanak pun dapat melaporkab pengalaman-pengalaman pertamanya, seperti tamasya di hari Minggu ataupun mengenai anak kucingnya yang baru lahir, kedatangan pamannya dari dari kampong membawa anyak buah-buahan. Selama penyajian suatu laporan, para penyimak haruslah mengikuti rencana organisasi sang pembicara, pilihan serta urutan ide-idenya, harus berusaha menyaring informasi yang melengkapi informasi yang telah ada dalam fikiran dan harus dapat mengevaluasi keotentikan atau kebenaran hal-hal yang dikatakan oleh sang pelopor. Laporan-laporan memang diperlukan bila kelompok-kelompok kecil ikut serta bekerja dalam panitia yang ada hubungannya dengan suatu kegiatan kelas; bila seorang individu mengamati atau membaca untuk mempelajari jawaban bagi suatu pertanyaan yang timbul dalam suatu kegiatan belajar, atau bila dia mengadakan suatu percobaan.
Dari masa taman kanak-kanak sampai kelas-kelas yang lebih tinggi, banyak sekali kesempatan timbul bila seorang anak menyimak cerita, baik cerita yang dituturkan kepadanya ataupun yang dibacanya dengan suara yang nyaring. Sang guru atau teman-teman sekelas dapat membacakannya dari buku-buku, mereka dapat menceritakan kisah-kisah, ataupun menceritakan serta menghubungkan dongeng-dongeng berdasarkan pengaaman pribadi. Mereka pun dapat pula bersama-sama menulis kreatif, memberi response dengan sepenuh hati, mengikuti pengembangan alur atau isi cerita, membayangkan atau mengimajinasikan gerak lakon yang disorot, yang dipotret dan menafsirkan perasaan-perasaan serta motifasi-motivasi para tokoh cerita (Dawson [et all], 1963 : 157-7). Di sampang itu, apresiasipun turut pula ditingkatkan bila anak-anak menyimak pembacaan puisi dan ikut serta dalam berbicara bersama dan membaca bersama (cnoral speaking and cnoral reading).
Mengajar-mengajar yang bersifat dua darah ternyata laporan-laporan sangat banyak melibatkan anak-anak harus disuruh dan dibiasakan banyak membaca. Untuk memeriksa sampai dimana pemahaman mereka tarhadap isi bahan bacaan, mereka pun disuruh pula membuat rangkuman tertulis, dan cesara tidak sadar kita telah memupuk serta meningkatkan keterampilan menulis mereka. Rangkuman yang berupa laporan tertulis itu dapat pula dibacakan di muka kelas , atau isi bacaan itu dapat diceritakan dengan kata – kata sendiri pada teman - teman kelas, yang sekaligus pula merupakan latihan bagi keterampilan berbicara. pada saat mereka membacakan laporan itu, teman-teman sekelasnya disuruh menyimaknya baik-baik.
Alangkah banyaknya kejadian dalam kehidupan sehari-hari yang dapat dilaporkan oleh anak-anak kepada guru dan teman sekelas dalam rangka meningkatkan keterampilan berbahasa, khususnya keterampilan berbicara dan menyimak.
2.5. Radio, Televisi, Rekaman, Telepon
Kehidupan modern menuntut kegiatan menyimak yang lebih meningkat. Pada masa kini kebanyakan rumah tangga memiliki satu atau lebih jenis-jenis perlengkapan radio, televisi, rekaman dan telepon. Segala jenis menyimak yang telah kita kemukakan pada pembahasan sebelumnya dituntut dalam berbagai ragam situasi menyimak oleh perlengkapan diatas, antara lain:
a. Menyimak sekunder, apabila musik dipasang pelan-pelan sebagai latar belakang
b. Menyimak social atau menyimak konversasional, kalau kita dipanggil berbicara pada telepon
c. Menyimak apresiasif, bila drama yang baik atau musik yang merdu dipagelarkan atau di pentaskan
d. Menyimak eksplorasif atau menyimak interogatif, kalau kepada kita diberikan resep-resep atau informasi mengenai cuaca
e. Menyimak konsentratif dan menyimak kritis, apabila masalah-masalah penting didiskusikan oleh para politikus dan para pakar dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan
Kalau kita telah mengemukakan bahwa sarana-sarana itu menuntut banyak kegiatan menyimak dan juga dapat mengembangkan serta mempertinggi mutu keterampilan-keterampilan menyimak, hendaknya jangan kita lupakan bahwa sebaliknya pun dapat terjadi; sarana-sarana canggih itu dapat pula membuat orang tidak menyimak, sebagai gantinya justru “menghilangkan” atau “mematikan” minat dan kemampuan menyimak. Apabila radio dan televisi dipasang atau dihidupkan berjam-jam terus menerus, maka jelas bahwa penyimakkan akan memutuskan percakapan ataupun diskusi kelompok keluarga, kalau dia ingin menonton siaran yang menarik baginya, atau dia akan mengesampingkan program tersebut, menganggapnya tidak ada bila dia mendengarkan atau menyimak pada rekan-rekanya. Perhatikanlah praktek yang nyata pada diri anda kalau ada siaran langsung permainan sepak bola, pertandingan tennis, pertandingan tinju, pagelaran musik jazz, upacara peringatan 17 Agustus pada layar televisi.
Tetapi bagaimanapun juga sang guru harus berusaha sekuat daya membimbing anak-anak yang mempunyai kecenderungan untuk “mematikan” atau “menganggap sepi” setiap penyajian yang kurang atau tidak dapat menarik perhatiannya. Sang guru harus berupaya agar penampilannya di muka kelas waktu mengajar benar-benar menarik dan efektif, kalau dia ingin memikat hati dan terus menarik minat para siswa yang bertindak sebagai pendengar, sebagai pemirsa.
Secara khusus dapat kita lihat bahwa situasi dan suasana sekolah sering kali menuntut perpanjangan waktu menyimak oleh kelompok-kelompok besar, seperti pada petemuan-pertemuan dan acara-acara sekolah. Sering pula sebagian terbesar dari pada anak-anak justru terlalu muda atau sudah terlalu besar untuk tertarik pada acara tertentu. Dalam hal ini staf pengajar haruslah dapat meyakinkan bahwa penyajian-penyajian tersebut disesuaikan dengan kedewasaan latar belakang serta perhatian para pemirsa, penyimak muda itu. Kalau tidak, maka tidak usah kita heran bila kebiasaan-kebiasaan menyimak yang jelek serta kekurang sopananlah yang menjadi akibatnya. Bahkan walaupun misalnya suatu program disesuaikan dengan baik bagi pemirsa, toh setiap guru sebaiknyalah mempersiapkan anak-anak didiknya buat menyimak dengan penuh perhatian, dengan cara mengadakan diskusi pendahuluan, telaah gambar-gambar, menceritakan suatu kisah, atau sarana-sarana lain yang dapat membangun suatu latar belakang serta membangkitkan hasrat dan gairah mereka untuk menyimak dengan saksama, cermat dan tepat (Dawson [et al], 1963 : 1958)
2.6. Aneka Alasan Menyimak
Seseorang sedang sibuk menyimak siaran warta berita dari televise. Temannya datang lalu bertanya: “Kok, asyik benar, sih? Apa yang kamu simak, dan untuk apa?” Orang itu agak kaget lalu menjawab: “Saya menyimak, tentu ada alasan, dong!”
Memang ada berbagai alasan orang menyimak itu. Di bawah ini kita kemukakan beberapa di antaranya, kita pilih alasan-alasan yang menurut pendapat kami termasuk penting.
a. Karena ingin mempelajari sesuatu dari bahan simakan. Banyak cara untuk belajar. Salah satu diantaranya adalah dengan menyimak. Kita menyimak suatu ceramah, diskusi, atau materi perkuliahan. Sudah barang tentu kita mempunyai anggapan bahwa dari ceramah, diskusi atau materi perkuliahan tersebut kita akan mendapat sesuatu hal baru, baik berupa pengetahuan ataupun pengalaman. Apalagi yang berbicara itu adalah pakar suatu studi kasus seperti kiyai atau guru bangsa, tentu hal ini sangat disayangkan jika kita tidak menyimaknya.
b. Karena ingin memikat hati orang lain. Hidup ini adalah memberi dan menerima; menghargai dan dihargai. Salah satu cara untuk menghargai serta dapat memikat hati orang lain adalah menyimaknya baik-baik pada waktu dia berbicara. Bagi orang yang sudah sering berbicara di muka umum, akan jelas terasa betapa sedihnya kalau orang tidak menyimak pembicaraan atau ceramahnya. Setiap pembicara akan senang dan menaruh simpati kepada orang-orang yang menyimak ujarannya. Karena sadar akan hal itu, maka tidak usah heran bila ada penyimak yang memanfaatkan momentum tersebut. Dengan perkataan lain: alasan utama bagi dia untuk menyimak adalah untuk menarik simpati atau memikat hati pembicara dan partisipan lainnya.
c. Karena ingin menjadi orang yang sopan santun. Salah satu ciri orang yang sopan santun adalah rela dan mau menyimak pembicaraan apalagi isi hati, keluhan, dan pesan orang lain. Memang dapat dimengerti, buat apa kita mengunjungi suatu kuliah, khotbah, kalau kita tidak ingin menyimaknya. Hadir pada suatu ceramah, tetapi kita tidak mau menyimaknya baik-baik, Kurang sopan bukan? Seorang penyimak yang baik adalah juga orang yang sopan santun.
d. Karena ingin mencari keuntungan uang. Dalam dunia modern ini ada saja orang bisa hidup hanya dari kegiatan menyimak. Kini sudah lazim kita dengar apa yang disebut “uang dengar”. Jeli mendengar penawaran, baik dari penjual ataupun dari pihak pembeli maka Seseorang bisa memperoleh rezeki atau keuntungan uang atau materi. Maklumlah, mempertemukan penjual dan pembeli, menyimak kegiatan mereka tawar menawar, lalu jadilah transaksi, maka sang penyimak akan memperoleh uang dengar sekian persen.
e. Karena ingin memperoleh manfaat dari bahan simakan. Selain keuntungan materi atau uang. Maka dari kegiatan menyimak seseorang dapat pula memetik manfaat moral, yang nonmaterial. Dari berbagai kegiatan menyimak, maka seseorang dapat lebih mantap mengetahui, memahami, bahkan menguasai pemecahan suatu masalah. Dengan demikian dia bisa terhindar dari tindakan-tindakan salah, yang mungkin membawa dampak negatif atas pribadinya
f. Karena ingin menghilangkan rasa bosan. Terkadang, kita tidak dapat menghindari rasa bosan atau rasa jenuh dengan tugas rutin sehari-hari, maka salah satu obatnya adalah mengalihkan perhatian kepada masalah lain: misalnya menyimak ceramah atau kuliah dari seorang ahli mengenai bagaimana cara menanam dan merawat bunga anggrek, bagaimana cara memelihara dan membiakkan burung puyuh, dan lain-lain. Kegiatan seperti ini, khususnya yang berhubungan dengan hobi, dapat menghilangkan rasa bosan. Dapat disimpulkan tujuan pada poin ini adalah ingin mencari hiburan.
g. Karena ingin memperbandingkan beberapa pendapat. Penjelasan atau keterangan mengenai suatu bidang studi dapat kita peroleh dari berbagai sumber, termasuk sumber lisan. Semakin banyak kita menyimak penjelasan mengenai sesuatu dari beberapa pakar, maka cakrawala pandangan kita mengenai hal itu bertambah luas. Selain itu kita pun dapat mengetahui di mana letak perbedaan dan persamaan pendapat para pakar itu. Nah, sering kita asyik menyimak seseorang memperbincangkan suatu topic, karena kita ingin memperbandingkan aneka pendapat mengenai hal itu: kita menyimak untuk mengadakan komparasi.
h. Karena ingin memperluas pandangan dan pengertian. Salah satu cara untuk memperluas pandangan dan mempermantap pengertian atau pemahaman mengenai satu topik adalah dengan menyimak sebanyak mungkin pendangan dan gagasan para ahli. Oleh karena itu, bila ada suatu acara dalam televisi mengenai bidang yang sedang kita tekuni, apalagi pembicaranya seorang ahli kenamaan tentu kita menyempatkan diri menyimaknya dengan penuh perhatian dan pemahaman
i. Karena ingin memenuhi rasa ingin tahu. Kita manusia mempunyai rasa ingin tahu terhadap sesuatu. Kian banyak kita tahu, kian banyak pula yang kita tidak tahu. Sadar akan hal inilah barangkali yang mempertebal rasa ingin tahu itu. Inilah salah satu dorongan atau motivasi yang membuat kita asyik dan sibuk menyimak sesuatu yang masih baru bagi kita. Rasa ingin tahu adalah salah satu pedoman untuk meneliti sesuatu lebih mendalam; tanpa ini seseorang takkan bisa menjadi peneliti unggul
j. Karena ingin tahu orang lain. Seorang pembimbing atau penyuluh haruslah seorang penyimak yang sabar. Segala keluhan, ratapan, kendala dari seseorang, didengarkannya dengan seksama. Kian sabar dan kian asyik dia menyimak kata hati orang lain, kian banyak pulalah orang yang menyenangi serta membutuhkan dia. Karena kontak yang baik ini, sang penyimak pun disenangi banyak orang. (Hunt : 1981 :13)
Demikian, telah kita ketengahkan sepuluh alasan orang menyimak. Tentu, kalau diperinci lagi, alasan-alasan tersebut dapat kita tambah lagi. Tetapi kita cukupkan saja sebegitu dulu. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar III.
Kita sebagai generasi muda tunas bangsa memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan wacana akademik bangsa dalam rangka merealisasikan tujuan Pembangunan Nasional supaya dapat berjalan sebagai mana mestinya. Salah satunya adalah dengan kegiatan menyimak karena menyimak adalah gerbang ilmu. Lantas bisakah kita mewujudkan itu? Inilah PR yang harus kita tekuni supaya Negara ini tidak hanya berkembang tetapi sudah saatnya Negara kita maju.

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
1. 45% dari waktu berkomunikasi dengan keterampilan berbahasa adalah dipergunakan untuk kegiatan menyimak.
2. Orang yang termasuk penyimak jelek adalah mereka yang:
a. Terlalu banyak mencatat secara terperinci,
b. Tidak sanggup mengatasi gangguan,
c. Berpura-pura menarik perhatian,
d. Kurang menaruh perhatian pada materi yang dibicarakan.
3. Hal-hal yang menuntut seseorang untuk menyimak secara atentif atau dengan penuh keseriusan ada banyak, di antaranya adalah sebagai berikut:
a. Petunjuk, keterangan, pengumuman
b. Percakapan dan diskusi
c. Laporan
d. Radio, televise, rekaman dan telepon
4. Berikut ini adalah beberapa alasan seseorang yang menyebabkan seseorang melakukan kegiatan menyimak.
a. Ingin mempelajari sesuatu,
b. Ingin memikat hati orang lain,
c. Ingin menjadi orang yang sopan santun,
d. Ingin mencari uang,
e. Ingin memperoleh keuntungan,
f. Ingin menghilangkan rasa bosan,
g. Ingin mengadakan komparasi,
h. Ingin memperluas wawasan atau pandangan,
i. Ingin memenuhi rasa ingin tahu,
j. Ingin disenangi orang lain.
5. Menyimak adalah kegiatan yang sangat penting, baik dalam kehidupan ataupun dalam kurukulum sekolah.
3.2. Saran
Indikator ketercapaian kegiatan menyimak sungguh hal yang bagus, baik dalam tata kurikulum ataupun pada kegiatan sehari-hari. Namun kurang mendapat perhatian khusus. Salah satu dari anggota dari kelompok kami berpendapat, “menyimak bukan hal asing namun pelaksanaannya sering diasingkan karena jarang sekali seseorang mangkaji secara optimal tentang menyimak, padahal kita tau fungsi menyimak sangat banyak dan dapat mempengaruhi tingkat keberhasilan sebuah event”. Inilah yang seharusnya kita telaah, sudah sepantasnya kita lebih mengunggulkan penerapan teori menyimak.
DAFTAR PUSTAKA
3.1. Dawson, Mildred A. [et all]. 1963. Guiding Language Leaning. New York; Haurcourt, Brace & world, Inc.
3.2. Hunt, Gary T. 1981. Public Speaking. Englewood Cliffs: Prentice Hall, Inc.
3.3. Salisbury, Rachel. 1955. Better Language and Thinking. New York: Appleton-Century-crofts, Inc.
3.4. Tarigan, henry Guntur. 1986. Menyimak sebagai suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Penerbit Angkasa.


terimakasih banyak mas, makalahnya berguna sekali :)
BalasHapus